oleh

PERAN KAPAL SELAM DALAM PERSPEKTIF PERTAHANAN REGIONAL

Suryanasional.com| Jakarta,-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara kepulauan terbesar di dunia (the biggest archipelagic state in the word) terdiri dari 17.499 pulau (16.056 pulau sesuai verifikasi PBB pada tanggal 18 Agustus 2017), dimana kepulauan Indonesia menjadi pemisah antara Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Perairannya menjadi jalur perhubungan laut dua benua antara Asia dan Australia. Dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan yang luasnya mencapai 5,8 juta km² dengan garis pantai 80.791 km. Posisi negara Indonesia yang strategis juga berbatasan langsung dengan 10 negara tetangga di laut dan 3 di darat, sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara yang

berpotensi terjadinya kerawanan berupa ancaman militer dan non-militer. Bila dilihat dari kondisi tersebut, Indonesia memiliki karakteristik yang terdiri atas rangkaian kepulauan nusantara dengan wilayah perairan, daratan dan udara yang terbentang luas, sehingga diperlukan suatu pertahanan negara yang efektif dan berdaya tangkal tinggi, yang harus ditopang oleh strategi pertahanan negara yang tepat dan mampu memaksimalkan pendayagunaan seluruh sumber daya nasional. Guna menghadapi berbagai kerawanan untuk memelihara kelangsungan hidup serta keutuhan bangsa dan negara dengan melibatkan seluruh komponen bangsa (komponen utama, komponen cadangan dan komponen pendukung).

Dari konstelasi geografis, peran, fungsi dan tugas TNI Angkatan Laut serta kemampuan peperangannya maka TNI Angkatan Laut harus memiliki kesenjataan strategis dan memiliki daya tangkal yang tinggi berupa alutsista, antara lain jenis Kapal Selam dan jenis Kapal Kombatan. Kapal jenis ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi sesuai dengan konstelasi geografis Indonesia di mana wilayah Indonesia memiliki perairan dalam dan perairan dangkal serta gugusan pulau besar dan kecil yang dapat dimanfaatkan dalam strategi perang di laut.

Salah satu alutsista yang memiliki nilai strategis tinggi adalah kapal selam, karena kapal selam dapat menimbulkan efek

penangkalan (detterence effect) bagi negara-negara di sekitarnya atau niat dari negara lain yang ingin melancarkan agresinya. Kapal selam merupakan kekuatan yang sangat ditakuti pada perang laut, karena gerakannya yang sulit dideteksi dan dapat menyusup ke jantung pertahanan daerah lawan tanpa diketahui. Pada era teknologi saat ini, dengan perkembangan teknologi kemiliteran semakin pesat sebagai dampak dari Revolution in Military Affairs (RMA) membawa dampak terhadap kemajuan teknologi militer yang lebih cenderung mengembangkan teknologi satelit, jangkauan jarak rudal dan pesawat tanpa awak, namun kekuatan kapal selam masih tetap diperhitungkan karena dengan kemajuan teknologi saat ini, kapal selam dapat bertahan di dalam air selama berbulan-bulan sehingga dapat memotong jalur logistik lawan.

RMA membawa dampak terhadap kemajuan teknologi militer, konsep operasi, pengorganisasian, doktrin dan strategi militer, bahkan secara luas telah berpengaruh terhadap aspek politik, sosial dan ekonomi. Untuk menjawab tantangan tersebut TNI AL sebagai bagian integral TNI terus berupaya mengembangkan kekuatannya terutama dengan memodernisasi alutsista, yang merupakan komponen utama dalam Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT). TNI AL melalui konsep Paradigma Baru menuju World Class Navy dalam pencapaiannya memerlukan empat elemen dasar yaitu keunggulan sumber daya manusia (excellent human resources), keunggulan teknologi (excellent technology),keunggulan organisasi (excellent organization) dan keunggulan kemampuan operasi (operation excellent).

Sejalan dengan kemampuan industri dalam negeri (PT PAL) dalam mengembangkan kemampuan strategis membuat kapal selam, TNI AL juga terus menyiapkan empat elemen dasar kemampuannya untuk mencapai standard World Class Navy dari aspek SDM yang siap mengawaki alutsista kapal selam dengan persenjataan terkini termasuk deployment dan pengembangan pangkalan kapal selam sesuai dengan poros datangnya ancaman serta keunggulan dalam kemampuan pemenuhan tuntutan operasi (sustainable operation detachment) Berbagai perkembangan lingkungan strategis dan krisis ekonomi yang terjadi pada dewasa ini dapat membawa dampak timbulnya ketegangan di antara bangsa-bangsa di dunia. Perkembangan ekonomi di beberapa negara Asia Pasifik mendorong tumbuhnya kekuatan baru dunia di bidang industri yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas di bidang industri. Hal ini berdampak terhadap meningkatnya kebutuhan energi, pangan dan air. Dengan adanya keterbatasan sumber daya alam pada akhirnya telah menimbulkan kesadaran akan keamanan sumber energi menjadi sebuah perhatian serius, mengingat

beberapa sumber energi seperti minyak dan gas bumi memiliki sifat tidak dapat diperbaharui sehingga di masa mendatang akan menjadi sebuah komoditi yang langka. Hal tersebut dapat meningkatkan ketegangan di antara bangsa-bangsa untuk menguasai sumber energi, pangan dan air dari berbagai kawasan khususnya kawasan Asia Pasifik.

Perkembangan lingkungan di kawasan regional pada dewasa ini juga telah memberikan pengaruh kepada bentuk ancaman yang mungkin terjadi di masa mendatang. Permasalahan perbatasan di Laut China Selatan sebagai akibat dari klaim Nine Dashed Line oleh China telah menimbulkan ketegangan yang berkepanjangan di antara China dengan beberapa Negara yang berkaitan langsung. Kondisi ini semakin diperparah dengan hadirnya Amerika Serikat dan kekuatan militernya dalam rangka menstabilisasi ketegangan yang terjadi di wilayah tersebut dan mempertahankan hegemoni di kawasan. Dalam perpektif AS, kehadirannya di Laut China Selatan untuk mencegah gangguan terhadap perdagangan dan investasi AS serta untuk memastikan kebebasan bernavigasi (Freedom of Navigation Operation). China menyebut kehadiran kekuatan militer AS itu adalah illegal dan dapat memicu ketegangan yang tidak perlu di kawasan Laut Cina Selatan. Implikasi yang terjadi ketegangan yang semakin meningkat di Laut China Selatan yang dapat dimungkinkan

sewaktu-waktu terjadinya konflik yang dapat berimbas kepada Indonesia. Selain itu, Indonesia masih menghadapi beberapa permasalahan perbatasan dengan Negara tetangga yang hingga saat ini belum terselesaikan. Kondisi ini bila berlangsung secara terus menerus akan dapat menimbulkan ketegangan sebagai akibat tidak jelasnya batas Negara yang ada.

Dalam isu perkembangan lingkungan strategis di kawasan regional saat ini terjadi saling klaim yang terjadi di Laut China Selatan (Paracel dan Spartley). China telah mengeluarkan secara sepihak peta wilayah teritorialnya melalui peta 9 titik (9 dotted line). Isu tersebut menjadi perhatian dunia internasional terutama negara besar seperti AS yang sangat berkepentingan di wilayah Asia Tenggara, sehingga AS membuat suatu Kebijakan Pertahanan Tahun 2012 melalui dokumen yang berjudul Sustaining US Global Leadership: Priorities For 21st Century Defense yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama di mana wilayah Asia Tenggara merupakan salah satu perhatian kebijakan AS terkait dengan kepentingan ekonominya sekaligus guna menghadapi kemunculan China sebagai kekuatan regional yang berpotensi mempengaruhi ekonomi dan keamanan AS. Untuk itu AS akan selalu berinvestasi di kawasan guna terjaganya akses regional dan kebiasaan beroperasi secara bebas. Dari kebijakan tersebut AS telah mengimplementasikan kesadaran maritim (Maritime Domain Awareness/MDA) dan menganggap lokasi choke points yang berada di Asia Tenggara, MDA-nya masih lemah dimana dari 9

choke points yang ada di dunia, 4 diantaranya berada di Indonesia, sehingga dengan kebijakan tersebut akan berimplikasi terhadap Indonesia apabila belum memiliki kebijakan akan kesadaran maritim nasional (National Maritime Domain Awareness), maka tidak menutup kemungkinan akan dijadikan isu baru bagi AS untuk mengendalikan ke 4 choke points tersebut.

Saat ini di kawasan Laut China Selatan sedang mengalami dinamika krisis politik akibat dari diklaimnya seluruh wilayah Laut China Selatan oleh China padahal wilayah tersebut terdapat enam claimants (China, Malaysia, Philipina, Taiwan, Vietnam dan Brunei Darussalam) yang menyebabkan terjadinya ketegangan antara negara-negara yang bersengketa memperebutkan hak kepemilikan wilayah kepulauan Spratley dan Paracel. Demikian juga di Semenanjung Korea sedang memanas akibat tebaran ancaman oleh Korea Utara kepada Korea Selatan untuk melaksanakan perang terbuka yang belum berakhir. Di akhir tahun 2015 India dan China sebagai pemain besar di kawasan Hindia dan Pasifik saling mengintai kekuatan masing-masing berkenaan dengan kemampuan menggelar kekuatan laut yang telah berkembang menjadi kekuatan blue water navy. Situasi ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat untuk menjalin kerja sama pertahanan dengan India yang semakin intensif. Memanasnya situasi di kawasan Asia Pasifik menyebabkan Amerika Serikat mengambil kebijakan dengan menggeser fokus perhatian dan menata kekuatan militernya ke kawasan Asia Pasifik yang selama ini diemban oleh

USPACOM diperluas wilayah tanggung jawabnya sampai Timur Tengah/Asia Selatan menjadi US-INDOPACOM. Situasi demikian dapat menimbulkan kemungkinan konflik terbuka di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea.

Mencermati berbagai perubahan kondisi strategis di Laut Cina Selatan dan Asia Selatan, Amerika Serikat telah melakukan sebuah langkah besar dengan merestrukturisasi kekuatannya di Asia Pasifik dengan mengubah komando militernya, dari US Pacific Command (US PACOM) menjadi US Indo-Pacific Command (US-INDOPACOM). Perubahan itu juga tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan Presiden Donald Trump yang mengkampanyekan “Make US Great Again” dan menimbulkan kontroversi dalam setiap keputusan strategis Amerika Serikat. Perubahan Komando AS itu sesungguhnya adalah penegasan atas pentingnya kawasan geopolitik Indo Pasifik yang didalamnya kini termasuk India. Seperti dikatakan oleh Menteri Pertahanan AS, Jenderal Jim Mattis ketika meresmikan perubahan komando di Hawaii pada akhir Mei 2018 bahwa hubungan dengan sekutu di Samudera Pasifik dan India terbukti penting untuk menjaga stabilitas regional. Perubahan komando tersebut sekaligus merupakan pengakuan atas meningkatnya konektivitas Samudera Hindia dan Pasifik, serta pengakuan terhadap relevansi militer India yang semakin meningkat. Pada kesempatan yang sama Admiral Phil Davidson, Panglima US Indo-Pacific Command menyatakan bahwa hubungan India dan AS adalah potensi peluang paling bersejarah di Abad ke21 dan Amerika berniat untuk mengejar itu untuk mewujudkannya. Pada tahun 2016, AS dan India telah menandatangani perjanjian yang mengatur penggunaan daratan, udara, dan pangkalan angkatan laut untuk perbaikan kapal dan pasokan bahan bakar. Langkah ini merupakan pembangunan hubungan pertahanan kedua negara untuk menghadapi agresivitas China yang semakin meningkat.

Komando Indo Pasifik AS, bertanggung jawab atas semua kegiatan militer Amerika Serikat di wilayah Pasifik, dengan kekuatan personil sekitar 375.000 personel sipil dan militer. Kawasan itu meliputi 36 negara, dengan lima negara di antaranya memiliki perjanjian pertahanan dengan AS. Adapun jumlah penduduk kawasan Asia Pasifik mencapai 50 persen dari populasi dunia. Secara militer komando AS di Indo Pasifik tersebut diperkuat 200 kapal perang dari berbagai jenis dengan 1.100 pesawat udara dan lebih dari 130.000 pelaut yang siap melindungi kepentingan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya (Fighting Force).

Perubahan komando Pasifik AS tersebut dapat dikatakan sebagai tandingan atas inisiatif China yang akan merangkul dan mendapatkan dukungan dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik termasuk Afrika dengan konsep OBOR (One Belt One Road)/BRI (Belt and Road Initiative) dengan pendekatan ekonomi (Smart Force), dan merupakan strategi pertahanan nasional AS di Asia dalam konteks menghadapi kekuatan China yang terus

berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dengan tidak diundangnya China mengikuti Rim of Pacific (RIMPAC) Exercise tahun 2018 sebagaimana pada tahun sebelumnya China hadir dalam latihan perang terbesar didunia yang tahun ini melibatkan 42 kapal permukaan, 5 kapal selam, 200 pesawat tempur serta 25.000 personel dari 25 negara. Dalam latihan ini TNI AL mengirimkan 2 kapal perang KRI RE Martadinata, KRI Makassar dan 600 personel.

Kapal Selam , Silent dan Mematikan.Mencermati perkembangan lingkungan strategis tersebut, maka TNI AL harus dapat mengantisipasi setiap bentuk ancaman yang timbul. Keberadaan sebuah senjata strategis seperti kapal selam untuk dapat menimbulkan deterence effect. Sesuai dengan ciri khasnya, kapal selam mengemban fungsi asasi sebagai pengintaian taktis dan strategis, menyelenggarakan Peperangan Anti Kapal Permukaan (AKPA) dan menyelenggarakan Peperangan Anti Kapal Selam (AKS). Selain mengemban fungsi asasi, Kapal Selam juga memiliki beberapa fungsi tambahan yaitu sarana infiltrasi (penyusupan pasukan khusus, spionase dan sabotase), penyebaran Ranjau secara terbatas, pencarian dan penyelamatan (Search And Rescue) di laut secara terbatas, angkut/evakuasi VVIP secara terbatas dan penyerangan obyek vital di darat dan di laut.

Sejak awal abad ke 20, kapal selam telah menjadi senjata pilihan untuk angkatan laut inferior yang berharap untuk mampu meniadakan atau menentang pengendalian laut oleh kekuatan dominan. Dalam pengoperasiannya kapal selam memiliki kemampuan kerahasiaan (stealth), jangkauan, daya tahan, dan kekuatan serangan yang tangguh. Kapal selam memiliki sejumlah elemen strategis (ends) penggunaan kekuatan angkatan laut sebagai bagian dari penggunaan kekuatan untuk mendukung tujuan nasional, yakni menegakkan kedaulatan, menjaga keutuhan wilayah, dan keselamatan suatu negara.

Peran deterrence effect sebuah kapal selam dapat memberikan kepastian dalam hal mencegah penggunaan laut (sea denial); pengendalian laut (sea control); intelligence, surveillance, reconnaissance (ISR); dan penyerangan (strike). Sejarah membuktikan bahwa kapal selam merupakan senjata penghancur lawan yang sangat sukses. Berikut bukti-bukti sejarah keterlibatan kapal selam selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II (PD I dan PD II), Perang India-Pakistan, Perang Malvinas dan Perang Dingin. Dalam PD I, Kapal Selam AL Jerman merupakan senjata yang sangat strategis dan ditakuti oleh lawan, karena telah banyak menenggelamkan kapal, terutama kapal-kapal kargo/logistik pihak sekutu sebagai taktik perang laut memutus garis perhubungan laut laut lawan. Kasus yang cukup terkenal adalah penenggelaman 3 kapal penjelajah AL Inggris oleh U-9 dalam sekali serangan. Pada PD II, kapal selam tetap menjadi senjata andalan bagi AL Jerman

dan AL sekutu untuk menguasai laut. Di Laut Mediterania Kapal selam AL Jerman telah menenggelamkan banyak kapal kargo maupun kapal perang AL Inggris dan di Samudera Atlantik, tercatat 3 kapal Induk Inggris berhasil ditenggelamkan oleh Kapal Selam Jerman. Sedangkan di Perairan Samudera Pasifik Kapal Selam AL AS berhasil menenggelamkan berjuta tonase kapal-kapal kargo dan kapal perang Jepang. Tercatat 5 kapal induk Jepang ditenggelamkan Kapal Selam AL AS, sementara Kapal Selam Jepang berhasil menenggelamkan 1 kapal induk AL AS. Pada Perang India-Pakistan I tahun 1965, kapal selam Pakistan PNS Ghazi berhasil menenggelamkan kapal Destroyer India. Pada saat itu PNS Ghazi adalah satu-satunya kapal selam yang dimiliki oleh AL Pakistan, dan saat itu AL India belum memiliki KS. Dalam Perang India-Pakistan II tahun 1971 kapal selam Pakistan yaitu PNS Hangor berhasil menenggelamkan salah satu Destroyer AL India INS Khukri. Dalam Perang Malvinas, kapal selam Inggris HMS Conqueror berhasil menenggelamkan kapal penjelajah Argentina General Belgrano yang dikawal oleh 2 Destroyer. General Belgrano ditenggelamkan dengan torpedo MK-8. Sedangkan kapal selam Argentina SS San Luis berhasil menyerang armada Inggris namun gagal menenggelamkan kapal-kapal Inggris karena kerusakan torpedo. Sedangkan pada era perang dingin, telah terjadi beberapa insiden yang berkaitan dengan pengoperasian kapal selam, contohnya kasus Whiskey on the Rock (penyusupan kapal selam Rusia di perairan Swedia),

terdamparnya kapal selam mini Korea Utara dan penyusupan kapal selam RRC di perairan Jepang. Yang terakhir dalam pada Perang Teluk I tahun 1991 dan Perang Teluk II 2002. Kapal selam Inggris memainkan peran penyusupan pasukan khusus (SAS)-nya di pantai Kuwait, sedangkan kapal selam AS berhasil menghancurkan beberapa sasaran darat dengan rudal jelajah Tomahawk-nya. Begitu juga dengan sejarah pengoperasian kapal selam di Indonesia, dalam Operasi Trikora/Pembebasan Irian Barat, RI. Candrasa dan beberapa kapal selam TNI AL jenis Whiskey Class berhasil menembus blokade laut Belanda dan mendaratkan RPKAD di Tanah Merah Irian Jaya.

Saat ini banyak kapal selam Diesel Elektris modern yang berkemampuan hampir menyamai kemampuan kapal selam nuklir, dengan perkembangan teknologi persenjataan, maka kapal selam modern semakin silent dengan endurance yang semakin lama serta memiliki daya pukul yang tinggi (rudal jelajah nuklir maupun konvensional, torpedo jarak jauh, ranjau dan rudal anti kapal permukaan maupun udara).

Peran Kapal Selam di Indonesia Dalam sejarah perkembangan teknologi dan persenjataan militer, kapal selam merupakan salah satu kekuatan Pemukul Strategis atau Strategic striking force yang terbukti memiliki daya tempur offensif yang ampuh dan memiliki tingkat deterrence effect yang tinggi. Dalam perpektif kekuatan laut (sea power) atau

kekuatan maritim (maritime power) suatu negara, kapal selam merupakan bench mark atau tolok ukur dari besarnya kekuatan laut suatu negara. Indonesia pernah mengalami kejayaan dengan skuadron kapal selam Whisky Class sejumlah 12 kapal termasuk kapal-kapal pendukungnya antara lain tender kapal selam yang dipersiapkan untuk mendukung Operasi Trikora tahun 1961 – 1962 dalam rangka perjuangan merebut Irian Barat / Papua dari Belanda. Setelah kembalinya Irian Barat/Papua ke pangkuan ibu pertiwi dan berhentinya dukungan sucad dari Uni Soviet, seiring dengan bertambahnya umur kapal maka jumlah kapal selam mengalami penurunan hingga hanya dua kapal yang masih dioperasikan dengan kemampuan azasinya yang sangat terbatas.

Selanjutnya sesuai perkembangan kemampuan keuangan negara satuan kapal selam mendapatkan kekuatan baru berupa 2 buah kapal selam Jerman type 209/1300 tahun 1980 dan selesailah era kapal selam Whisky. Seiring dengan life time U-209 yang telah mencapai lebih dari 37 tahun saat ini satuan kapal selam TNI AL mendapatkan penambahan kapal selam baru tipe 209 Chang Bogo dari Korea Selatan. Keberadaan kapal selam yang baru menjadikan TNI AL memiliki pengalaman mengoperasikan dan memelihara 3 generasi kapal selam yaitu Whisky Class buatan Rusia, U-209/1300 buatan Jerman dan Chang Bogo buatan Korea Selatan yang sejatinya merupakan variant dari type 209 yang telah dimodifikasi. Generasi baru kapal selam ini berjumlah 3 kapal dengan kesepakatan alih teknologi (Transfer of Technology/ToT)

dimana 2 kapal dibuat di Korea Selatan dan 1 kapal dibuat di PT PAL. Sistem ToT dengan Korea telah banyak menguntungkan Indonesia karena kedepan dapat membuat kapal selam sendiri dengan sistem persenjataan sangat memungkinkan dibuat di negeri sendiri.

Pembangunan Kapal Selam Generasi Ketiga (Chang Bogo Class) dalam menyikapi perkembangan lingkungan strategis regional.

Untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia, selain kapal permukaan Indonesia juga membutuhkan 12 kapal selam yang dipersenjatai dengan rudal yang dapat dengan mudah melumpuhkan target kapal asing dalam rangka menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Indonesia memerlukan kapal selam konvensional yang berukuran besar agar dapat beroperasi jauh dari pangkalan. Satuan kapal selam nantinya juga harus dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap negara Indonesia sebagai leadership role di kawasan regional dan ikut serta secara aktif dalam ikut menjaga perdamaian dunia.

Dalam pemenuhan kebutuhan alut sista sesuai dengan MEF pada periode 2010 – 2014 telah dimulai penyiapan sarana pendukung di PT PAL untuk pembuatan kapal selam kelas Chang

Bogo dengan system ToT dari Korea Selatan (Daewoo Shipbuilding and Marine Enginering/DSME). Pembangunan kapal selam bacth pertama terdiri dari 3 unit (2 unit dibangun di Korea yaitu KRI Nagapasa-403 dan KRI Ardadedali-404 dan 1 unit di PT PAL Indonesia yaitu KRI Alugoro-405, saat ini sedang dilaksanakan proses akhir/penyempurnaan dan direncanakan akan diluncurkan pada medio pertama Oktober 2018 oleh Presiden RI).

Direncanakan pengadaan kapal selam bacth kedua (3 kapal) akan dimulai pada akhir tahun 2018 dengan peningkatan persenjataan strategis yang dapat dimodifikasi untuk membawa rudal Sub Surface to Surface melampaui batas cakrawala (over the horizon). Nilai strategis tersebut karena kapal selam memiliki keunggulan endurance yang lama di laut serta lebih sulit dideteksi, dapat beroperasi secara individu, mampu menyusup hingga ke perairan teritorial/jantung pertahanan lawan tanpa terdeteksi, mampu membawa senjata strategis (rudal jelajah maupun balistik dengan sasaran obyek vital di darat), mampu berfungsi sebagai alat pengumpul data intelijen di perairan lawan, mampu menyebarkan ranjau secara rahasia, memiliki daya kejut (surprise) dan daya pukul yang tinggi dan memberikan dampak tekanan psikologis yang tinggi terhadap lawan.

Di kawasan Asia Indonesia menjadi pioner dalam pengoperasian kapal selam. Pada tahun 1960-an, Indonesia memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey. Namun saat ini, Indonesia (TNI AL) hanya memiliki 4 kapal selam yaitu KRI Cakra, KRI

Nanggala, KRI Nagapasa dan KRI Ardadedali (dua terakhir merupakan pengadaan baru). Untuk mendukung operasional kapal selam tersebut, TNI AL merencanakan pembangunan pangkalan kapal selam di Palu (ALKI II). Melihat peningkatan kekuatan yang dilakukan oleh Indonesia, negara tetangga terus berupaya untuk membangun dan mengembangkan kekuatannya. Malaysia membeli 2 Kapal Selam kelas Scorpene (Perancis), Singapura sudah memiliki 6 kapal selam telah merencanakan pengadaan 2 kapal selam type 218SG dari Jerman. Vietnam, merupakan kekuatan laut baru dikawasan. Pada Desember 2009 Vietnam telah menandatangani kontrak pembelian 6 kapal selam kelas Kilo (Rusia). Thailand telah melakukan penjajakan pembelian 6 kapal selam U-206A dari Jerman. Pada tahun 2020, Pilipina telah merencanakan pembelian kapal selam sedangkan Myanmar telah mengoperasikan kapal selam kelas Yugo 110 dan Sang-O 370 dan mengakuisisi 2 kapal selam kelas Vela (Rusia).

Indonesia telah dikenal dunia sebagai negara kepulauan (Archipelagic state) terbesar yang memiliki kondisi konstelasi geografis yang sangat strategis menjadikan laut sangat penting artinya bagi lalu lintas pelayaran nasional maupun internasional. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai center of gravity kawasan Asia Pasifik.

Keamanan maritim kawasan tidak dapat dilepaskan dari kondisi perubahan lingkungan strategis Laut Cina Selatan yang saat ini menghadirkan dua kekuatan utama: Amerika Serikat dan China dengan kepentingan nasional yang berbeda satu sama lainnya. Permasalahan di Laut Cina Selatan semakin kompleks dengan kehadiran Amerika Serikat dengan menggunakan figting force untuk mempertahankan hegemoninya di kawasan, sedangkan China ingin mengambil alih hegemoni tersebut dengan pendekatan ekonomi (smart force).

Amerika Serikat telah melakukan keputusan strategis dengan merestrukturisasi kekuatan di Pasifik yaitu mengubah komando militer dari US Pacific Command (USPACOM) menjadi US Indo-Pacific Command (US-INDOPACOM). Perubahan ini merupakan penegasan akan pentingnya kawasan geopolitik Indo Pasifik termasuk India/Asia Selatan.

Keberadaan kapal selam sebagai sebuah senjata strategis dapat menimbulkan deterence effect menjadi sebuah kebutuhan utama bagi bangsa Indonesia sebagai leadership role di kawasan regional yang dapat memenuhi standard World Class Navy dengan empat elemen dasar yaitu keunggulan sumber daya manusia (excellent human resources), keunggulan teknologi (excellent technology), keunggulan organisasi (excellent organization) dan keunggulan kemampuan operasi (operation excellent). (Budi R/ Marsetio)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed