oleh

Ketua APBMI Jatim: SPPI III Jangan Asal Bicara

-Peristiwa-1.154 views

Editor: Tri Karyono| Reporter: Budi Raharto

Suryanasional.com|Surabaya,-Pernyataan Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia III (SPPI III) yang mengungkap adanya dugaan praktik kartel layanan bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan milik negara benar-benar mengundang reaksi. Sinyalemen kontroversi ini bak bola liar yang menggelinding kencang.

Alhasil, kecurigaan yang disematkan Ketua SPPI III, Muhammad F. Malik ke sejumlah oknum pengusaha swasta bidang bongkar muat terkait siasat kartel tersebut menyulut pitam Ketua Dewan Perwakilan Wilayah Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jawa Timur, Kody Lamahayu Fredy.

“Pertanyaannya..? Kalau bicara masalah kartel dilihat dari mananya? Sangat tidak tepat dan tidak relevan bagi perusahaan bongkar muat kalau disebut melakukan kartel. Apanya yang kartel?” Kalau ini bisa kartel, tidak akan ada PBM (perusahaan bongkar muat, red) yang bangkrut,” tandas Kody, Senin (12/11/2018).

Untuk itu, ia meminta, agar SPPI III tidak melampaui batas dari kapasitasnya sebagai bagian dari pekerja di lembaganya, dalam hal ini PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)/Pelindo III. Dikatakan, apabila memang ada upaya pengusaha swasta bersiasat membangun kartel di layanan bongkar muat, agar didukung dengan data fakta otentik. “Jadi, jangan asal bicara, atau hanya mencari muka tanpa ditopang pengetahuan. Sebetulnya, kalau berani bicara, harus tahu dulu apa artinya kartel. Pahami dulu apa arti sebenarnya dari kartel, baru bicara,” ingat Kody di kantornya.

Menurut Kody, bangkrutnya PBM, hingga berujung tutup, tak lepas dari bukti kian sulitnya PBM swasta mendapatkan order bongkar muat dari konsumen/pengguna jasa. Praktis, dari 145 PBM se-Jawa Timur, kini tinggal 100 perusahaan yang berusaha bertahan hidup tanpa pekerjaan.

“Tanjung Perak saja mungkin tinggal 85 PBM. Bagaimana dikatakan kartel. Yang bisa melakukan kartel, atau monopoli adalah BUP selaku pemilik fasilitas. Kalau di swasta tidak bisa melakukan itu (kartel, red). Karena, swasta tidak bisa mengatur suplier, importir ataupun pemilik barang. Yang bisa mengatur adalah BUP,” tegas Kody sembari mengingatkan agar tidak membuat statemen tanpa dasar yang justru mengundang kegaduhan.

Lebih jauh Kody mengungkapkan, sebelum badan usaha pelabuhan (BUP) diresmikan pemerintah, maka PBM menggunakan Peratuan Menteri (KM) 60/2014 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Bongkar Muat Barang dari dan Ke Kapal. Dalam aturan tersebut, lanjut Kody, yang boleh melakukan bongkar muat adalah perusahaan yang dibuat untuk bongkar muat dan memiliki SIUP PBM dari Dinas Perhubungan Provinsi setempat. “Sedangkan, dasar yang sekarang membolehkan BUP melakukan pelayanan bongkar muat adalah, PM 152 tahun 2016,” ungkapnya.

Hanya saja, ingat Kody, aturan yang melegitimasi BUP dalam Penyelenggaraan Dan Pengusahaan Bongkar Muat Barang Dari Dan Ke Kapal itu, harus menggunakan peralatan khusus, seperti conveyor, pipa serta berada dalam dedicated area/pelabuhan khusus dan bukan di pelabuhan umum. Dalam Pasal 2 ayat 9 di PM 152/2016, BUP masih diperkenankan melakukan bongkar muat, namun harus diatur lagi dengan peraturan menteri tersendiri.

“Sekarang, peraturan menteri tersendiri itu belum diterbitkan Menteri Perhubungan, tapi kenapa Pelindo III sudah bisa melakukan bongkar muat? Berarti dia (Pelindo III, red) tidak mengindahkan PM 152 dan PM 60. Kalau ditinjau dari dua keputusan menteri ini, jelas-jelas secara hukum Pelindo III melanggar. Sekarang yang disebutkan kartel yang mana dan siapa?” tanya Kody.

Seperti diberitakan sejumlah media, SPPI III melalui ketuanya, Muhammad F. Malik menyebut, kewenangan pemerintah di pelabuhan mulai dipreteli atau dipangkas kartel bongkar muat swasta. Padahal di pelabuhan-pelabuhan milik negara sudah ada perpanjangan tangan pemerintah yang melayani kegiatan bongkar muat demi kepentingan pengguna jasa logistik.

“Saat ini sejumlah oknum pengusaha swasta sedang berupaya membuat kartel layanan bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan milik negara. Mengapa disebut ‘kartel’? Karena oknum-oknum tersebut bersiasat untuk membatasi tersedianya layanan bongkar muat yang profesional dengan kompetisi bisnis yang sehat,” ungkap Malik, sapaannya di Surabaya, Rabu (7/11/2018) lalu.

Kondisi tersebut, kata Malik, sangat mengkhawatirkan. Alasannya, adanya kompetisi bisnis yang tidak sehat hingga menyebabkan biaya tinggi pada layanan jasa bongkar muat. Kemudian, efektivitas dan profesionalitas jasa yang diberikan juga tidak terjamin. “Maka yang dirugikan adalah para pengguna jasa logistik, mulai dari pemilik barang, perusahaan pelayaran, pengusaha angkutan barang, dan bahkan masyarakat sebagai konsumen akhir dari barang-barang konsumsi yang didistribusikan melalui pelabuhan,” ulasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

32 komentar

  1. Ping-balik: cialis 100mg review
  2. Ping-balik: generic viagra 2017
  3. Ping-balik: 200mg viagra
  4. Ping-balik: cialis 500mg
  5. Ping-balik: tadalafil otc
  6. Ping-balik: 200 mg viagra
  7. Ping-balik: meloxicam strengths
  8. Ping-balik: cephalexin penicillin
  9. Ping-balik: keflex breastfeeding
  10. Ping-balik: flagyl dosing
  11. Ping-balik: augmentin empyema
  12. Ping-balik: cephalexin costco
  13. Ping-balik: augmentin es
  14. Ping-balik: bactrim uti
  15. Ping-balik: augmentin throat
  16. Ping-balik: flagyl classifica
  17. Ping-balik: bahis siteleri
  18. Hey I am so grateful I found your blog page, I really found you by mistake, while I was
    browsing on Yahoo for something else, Nonetheless I am here now and
    would just like to say thanks a lot for a incredible post and a
    all round entertaining blog (I also love the theme/design), I don’t have time to read through it all at the moment but I have bookmarked it
    and also added in your RSS feeds, so when I have time I will be back to read a lot more, Please do
    keep up the awesome b.

  19. Can I simply say what a comfort to find somebody who really understands what they are talking about
    online. You certainly realize how to bring a problem to light and
    make it important. More people have to look at this and understand this side of the story.
    It’s surprising you’re not more popular given that you surely have the
    gift.

  20. Ping-balik: 1surplice
  21. Ping-balik: viagra

News Feed