Enam Desa Lolos Nominasi Lomba Desa di Kudus, Salah Satunya Megawon Produksi Sangkar Burung

Kudus,Suryanasional.com, Enam desa lolos dalam tahap administrasi Penilaian Lomba Desa tingkat Kabupaten Kudus Tahun 2025, kini berlanjut memasuki tahap klarifikasi lapangan yang dijadwalkan mulai hari ini, Rabu, (30/04/2025).

Enam desa tersebut yakni, Desa Sidorekso Kecamatan Kaliwungu, Desa Megawon Kecamatan Jati, Desa Soco Kecamatan Dawe, Desa Honggosoco Kecamatan Jekulo, Desa Gondangmanis Kecamatan Bae, dan Desa Ngemplak Kecamatan Undaan.

Kepala Dinas PMD, Famny Dwi Arfana mengatakan, ada enam desa yang mengikuti penilaian lomba desa, yaitu, Desa Megawon, Gondangmanis, Honggosoco, Sidorekso, Soco, dan Ngemplak. Sementara tiga kelurahan adalah Melatinorowito, Wergu Kulon, dan Kerjasan.

“Jadi aspek penilaian lomba desa ini meliputi bidang pemerintahan, kewilayahan, kemasyarakatan, inovasi desa dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Salah satu Desa peserta dalam lomba desa tingkat Kabupaten Kudus tahun ini yakni Desa Megawon, Kecamatan Jati. Saat ini, proses lomba telah memasuki tahap penilaian, dan pemerintah desa memanfaatkan momentum ini untuk menampilkan berbagai potensi.

Nurasag, Kepala Desa Megawon, mengatakan bahwa desanya memiliki keunggulan potensi di berbagai bidang, mulai dari UMKM, bidang olahraga, hingga budaya lokal.

“Kami berusaha menunjukkan potensi terbaik desa kami dalam lomba ini. Mulai dari sektor olahraga lapangan sepak bola dan basket yang sudah mumpuni, UMKM, hingga kelembagaan masyarakat, semuanya masih berjalan dan terus berkembang,” katanya.

Selain itu ada andalan Desa Megawon produk sangkar burung yang telah menjadi produk unggulan. Peoduk tersebut sudah ada di wilayahnya sejak tahun 1959 di Dukuh Wungu RW 1. Saat ini produk sangkar burung mulai tersebar sekampung.

“Hampir satu kampung itu mayoritas pembuat sangkar burung. Harganya mulai Rp15 ribu hingga jutaan rupiah. Produknya sudah berkembang ke luar daerah bahkan provinsi ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, dan Sumatra,” ujarnya.

Untuk pengembangan, Pemdes akan merancang pembangunan sentra produksi terpusat untuk kegiatan pembuatan sangkar burung supaya lebih teratur dan nyaman.

Sedangkan untuk memperkuat pemasaran, Desa Megawon rutin mengadakan kegiatan gantangan burung dak legiatan ini sekaligus menjadi ajang promosi produk sangkar burung.

Desa Megawon juga memmiliki makanan khas getuk gulung yang mulai dikenal masyarakat, meski saat ini masih diproduksi berdasarkan pesanan tapi makanan tersebut merupakan produk unggulan UMKM setempat.

Yang paling menarik, Megawon juga mempunyai kebudayaan seni tari bernama Bun Ya Ho, yang berarti mari berbuat kebajikan yang merupakan peninggalan dari ulama Abdul Jalil yang merupakan penyebar Islam asal Brebes.

“Bun Ya Ho merupakan tarian yang mengandung makna ajakan berbuat kebajikan. Sejak 2013 kami hidupkan kembali dan kita tampilkan setiap Sedekah Bumi. Kini menjadi ikon budaya desa,” tuturnya.

Untuk pembinaan generasi muda, Desa Megawon juga menyediakan berbagai fasilitas yang mumpuni diantaranya olahraga seperti lapangan sepak bola, voli, badminton, dan lain sebagainya.  “Ini merupakan bagian dari upaya kami membina anak muda dan menekan kenakalan remaja,” tutupnya.(ad)