Kudus,Suryanasional.com – Ketua Aliansi Masyarakat Peduli MBG (AMPM) Kudus, Mujahidin, S.H., memberikan tanggapan atas surat terbuka yang ditulis oleh siswa SMK NU Miftahul Falah Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi, kepada Presiden Prabowo Subianto terkait penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
AMPM menyampaikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan Rafif. Menurut Mujahidin, di era demokrasi dan keterbukaan digital saat ini, keberanian menyampaikan pendapat merupakan hal positif, terlebih jika disertai argumentasi yang jelas dan mendasar.
“Langkah yang dilakukan Muhammad Rafif Arsya Maulidi patut diapresiasi. Dalam negara demokrasi seperti Indonesia, menyampaikan aspirasi adalah hak setiap warga negara, apalagi jika disampaikan dengan baik dan argumentatif,” ujarnya.
AMPM berharap surat terbuka tersebut dapat menjadi perhatian bagi para pengambil kebijakan di tingkat pusat. Menurutnya, aspirasi dari masyarakat, termasuk kalangan pelajar, penting dijadikan bahan evaluasi dalam pelaksanaan program pemerintah.
AMPM juga menegaskan bahwa program MBG pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, yakni meningkatkan gizi serta mencegah stunting pada anak-anak Indonesia. Namun demikian, pelaksanaannya harus benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh oknum tertentu.
“Program MBG memiliki tujuan mulia yang dicanangkan oleh Presiden. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus difokuskan kepada penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan, sesuai dengan tujuan awal,” jelasnya.
AMPM menilai apa yang dilakukan Rafif dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas agar tidak takut menyampaikan pendapat, selama dilakukan dengan cara yang santun dan konstruktif.
“Ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk tetap berani menyampaikan aspirasi secara baik dan bertanggung jawab,” tuturnya.
AMPM juga menyatakan siap memberikan pendampingan apabila benar terdapat dugaan intimidasi yang dialami Rafif setelah surat terbuka tersebut viral.
“Jika benar ada intimidasi, kami dari AMPM bersama masyarakat siap memberikan pendampingan agar yang bersangkutan tetap mendapatkan perlindungan dan rasa aman,” tegasnya.
Diketahui, surat terbuka yang ditulis Rafif sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial dan menuai beragam respons dari publik. Kasus ini menjadi sorotan sebagai bagian dari dinamika demokrasi dalam menyikapi kebijakan pemerintah.
Fenomena tersebut dinilai wajar, mengingat Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, terlebih aspirasi tersebut disampaikan oleh seorang pelajar yang merasakan langsung kondisi di lapangan.(AD)






