“Yang Tidak Wajib, Tapi Menyelamatkan”

Bojonegoro,Suryanasional.com – Sore itu suasana terasa tenang. Angin pelan berhembus, dan beberapa orang duduk santai di teras sambil minum kopi Cap kapal api . Di tengah obrolan ringan, nama asli Sutrisno yang biasa disapa Mbah Alex sejak kecil tiba-tiba berkata pelan,

“Sholat sunnah itu… ternyata penting.”

Aku sempat terdiam. Kalimatnya sederhana, tapi entah kenapa terasa menohok.

“Lho, kan nggak wajib, Mbah?” tanyaku spontan, sambil melihat tengok teman sebelahku.

Mbah Alex tersenyum tipis. “Justru itu… karena nggak wajib, banyak yang meremehkan.”

Beliau lalu menatap jauh, seakan mengingat sesuatu.

“Kamu yakin sholat wajibmu sudah sempurna?” lanjutnya pelan.

Aku tidak bisa langsung menjawab.

“Dalam hidup ini,” kata beliau, “kita sering merasa sudah cukup. Padahal belum tentu. Sholat sunnah itu seperti penambal… menutup kekurangan yang kita sendiri kadang tidak sadar.”

Suasana jadi hening. Kata-katanya terasa masuk perlahan.

“Terus kenapa harus dikerjakan kalau nggak wajib, Mbah?” aku mencoba bertanya lagi sambil menikmati rokok kretek jarum Apelnya.

Beliau tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Karena itu tanda cinta.”

Aku menunduk.

“Kalau cuma yang wajib saja yang kita lakukan, itu namanya menjalankan kewajiban. Tapi kalau yang tidak diwajibkan pun kita kerjakan… itu namanya kita ingin lebih dekat.”

Angin sore kembali terasa. Tapi kali ini, hati terasa berbeda.

“Tidak usah banyak-banyak,” lanjut Mbah Alex. “Dua rakaat dhuha… atau witir sebelum tidur. Kecil, tapi kalau istiqomah, besar nilainya.”

Aku mengangguk pelan.

Sejak hari itu, aku mulai memahami sesuatu.

Bahwa yang tidak wajib, bukan berarti tidak penting.
Bahwa yang kecil, bukan berarti tidak berarti.

Dan mungkin… justru di situlah letak hal-hal yang bisa menyelamatkan kita.(Lex/red)