Sidoarjo,Suryanasional.com – Tenda putih berdiri rapi, kursi deret panjang, dan suara anak-anak bercampur doa orang tua. Sejak pagi Minggu 21/6/2026, kediaman Aba Rahmawan di Desa Kedung Peluk, Kecamatan Candi berubah jadi pusat kegiatan sosial.
Pengusaha sukses asal Gempol, pemilik Rizqy Sport Centre dan Boss Mild Group itu kembali menepati janji tahunan: menggelar khitanan masal gratis. Kali ini 50 anak dari dua desa, Kedung Peluk dan Kali Pecabean, ikut serta. Tanpa biaya sepeser pun.
Bagi warga, nama Aba Rahmawan atau Kaji Mawan sudah tak asing. Tapi lewat acara ini, sisi kedermawanannya paling nyata terasa. Ia tak hanya menanggung tim medis dan peralatan steril. Setiap anak yang selesai disunat pulang dengan bingkisan lengkap: perlengkapan sholat, snack, dan uang saku.
Agenda tahunan ini sudah melekat sebagai tradisi warga dua desa. Di sela menyapa anak-anak yang baru selesai disunat, Aba Rahmawan bicara pelan tapi tegas.
“Khitanan masal ini bentuk syukur saya atas rezeki yang Allah titipkan. Sebagai warga Gempol dan Sidoarjo, saya merasa punya tanggung jawab sosial. Anak-anak harus tumbuh sehat, kuat, dan dekat dengan ibadah. Karena itu saya siapkan perlengkapan sholat. Biar setelah disunat, mereka langsung belajar rajin ke masjid,” ujar Aba Rahmawan.
Sebagai owner Boss Mild Group dan tim balap Rizqy Motor Boss Mild, ia membuktikan kesuksesan di lintasan dan usaha bisa dialirkan ke lintasan sosial. Bagi Kaji Mawan, rezeki paling berkah adalah rezeki yang kembali ke masyarakat.
Kedermawanan itu langsung dirasakan orang tua peserta. Siti Aminah, warga Kali Pecabean yang mengantar putranya Farel, 8 tahun, menahan haru saat bingkisan dibuka.
“Dulu waktu anak pertama khitan, saya mikir biaya dan beli perlengkapan sholatnya. Sekarang tinggal antar anak, doa, dan pulang bawa semuanya. Gratis, cepat, pelayanannya juga ramah. Farel senang dapat peci baru sama uang saku. Saya cuma bisa bilang terima kasih banyak Pak Aba Rahmawan. Semoga usaha beliau makin lancar dan barokah,” ucapnya sambil memeluk anaknya.
Cerita Siti mewakili puluhan ibu lain yang duduk di teras rumah. Bagi mereka, khitanan masal Aba Rahmawan bukan sekadar meringankan beban ekonomi. Tapi juga memberi ruang bagi anak-anak merasakan kebahagiaan tanpa membuat orang tua khawatir biaya.
Tim medis bekerja bergiliran sejak pukul 07.00. Antrean diatur rapi oleh relawan karang taruna. Anak-anak ditemani orang tua, sebagian menggenggam tangan ibunya, sebagian lagi mencoba berani.
Usai disunat, anak-anak diarahkan ke meja bingkisan. Tangan kecil mereka menerima sajadah, sarung, peci, snack, dan amplop uang saku langsung dari Aba Rahmawan. Ada senyum, ada yang masih menahan sakit, tapi semuanya tampak bangga.
Kediaman yang sejak pagi riuh, perlahan tenang menjelang sore. Acara ditutup doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Warga bersalaman, anak-anak pamit pulang sambil memamerkan bingkisan.
Lewat khitanan masal tahunan ini, Aba Rahmawan meninggalkan dua jejak. Pertama, jejak ekonomi: meringankan beban puluhan keluarga di Kedung Peluk dan Kali Pecabean. Kedua, jejak spiritual: menanamkan kebiasaan ibadah sejak usia dini lewat perlengkapan sholat yang dibagikan.
Tradisi berbagi ini menegaskan satu hal. Di tengah kesibukan sebagai pengusaha dan pemilik tim balap, Aba Rahmawan tak lupa pulang ke akar: berbagi untuk warga, menebar manfaat untuk anak bangsa.(An)






