DI ANTARA GEMERLAP BUDAYA ASING, BU HERU DAN SAGGAR SHYEILAH PUSPITA MANDIRI MENYALAKAN KEMBALI API BUDAYA PASURUAN

Purwosari,Suryanasional.com – Ada cahaya kecil yang tak pernah padam di Perumahan Griya Inti Permata, Martopuro, Purwosari. Cahaya itu bernama Sanggar Shyeilah Puspita Mandiri.

Di sanalah, di bawah bimbingan seorang perempuan berdarah Pasuruan sejati, Raden Kanjeng Gusti Bendara Ayu Siti Sa’adah atau yang akrab disapa Bu Heru, benih-benih kearifan lokal terus disemai. Bukan di atas kertas, tapi di atas gerak tari, di atas goresan canting, di atas warna-warna lukisan.

Bagi Bu Heru, menjaga budaya bukan sekadar pekerjaan. Itu panggilan jiwa.

“Hati Ini Pilu, Ketika Anak-Anak Lupa Daratan”
Keprihatinan itu datang bukan tiba-tiba. Ia tumbuh dari apa yang Bu Heru lihat setiap hari.

“Yang paling membuat hati ini pilu adalah ketika kita melihat anak-anak kita sendiri di hari kemerdekaan. Panggungnya ada di tanah Pasuruan, musiknya ada, semangatnya ada… tapi yang ditampilkan justru tarian-tarian yang bukan dari budaya kita,” ucap Bu Heru dengan suara bergetar.

“Seolah-olah tanah Pasuruan ini tidak punya tari, tidak punya cerita, tidak punya jati diri untuk dibanggakan. Padahal kita punya Remo, punya Topeng, punya karawitan yang adiluhung,” lanjutnya.

Lebih miris lagi, menurut Bu Heru, dorongan itu justru datang dari rumah.
“Orang tua sekarang lebih bangga jika anaknya fasih menirukan budaya luar. Dianggap modern, dianggap keren. Giliran diajak belajar tari daerah, membatik, atau mengenal filosofi leluhur… malah dibilang ‘ketinggalan zaman’. Padahal di setiap gerak tari kita ada adab. Di setiap motif batik kita ada doa,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca.

Ada Harapan Besar Kepada Pemerintah
Di tengah perjuangannya, Bu Heru tidak berhenti berharap. Ia menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk hadir lebih nyata.

“Saya berharap pemerintah bisa memberi ruang lebih bagi budaya lokal. Masukkan ke sekolah-sekolah, beri panggung di setiap acara daerah, beri pelatihan bagi para pembina sanggar. Kami siap jalan bersama. Karena melestarikan budaya ini bukan tugas satu sanggar saja, tapi tugas kita semua,” harap Bu Heru.

“Jika pemerintah berpihak, saya yakin 10 tahun lagi anak-anak Pasuruan akan lebih bangga pentas dengan kesenian daerahnya sendiri. Bukan karena dipaksa, tapi karena cinta,” tambahnya.

Sanggar Shyeilah Puspita Mandiri: Rumah Untuk Tidak Lupa
Di tengah keterbatasan itulah Sanggar Shyeilah Puspita Mandiri berdiri kokoh.

Di sini, anak-anak tidak hanya diajarkan menari. Mereka diajarkan makna. Mengapa geraknya lembut, mengapa iringannya seperti itu, mengapa senyum penari harus tulus.

Lebih dari itu, sanggar ini juga menjadi tempat belajar membatik dan melukis. Khususnya Batik Segiri, warisan Pasuruan yang sarat makna.
“Batik bukan hanya kain. Setiap titik, setiap garis adalah cerita. Cerita tentang tanah, tentang raja, tentang rakyat Pasuruan. Kalau anak-anak tidak kita ajarkan sekarang, siapa yang akan mewariskan kepada cucu-cucu kita nanti?” kata Bu Heru.

Kesungguhan itu tidak sia-sia. Sanggar ini telah menorehkan sederet prestasi membanggakan di bidang tari, lukis, hingga batik. Nama Pasuruan berkali-kali berkibar karena karya anak-anak dari Griya Inti Permata.

Sebuah Perlawanan yang Indah
Bagi Bu Heru, setiap latihan adalah perlawanan. Perlawanan terhadap lupa. Perlawanan terhadap arus yang ingin menghapus identitas.

“Kemajuan tidak harus membuat kita kehilangan akar. Anak-anak boleh kenal dunia, tapi jangan sampai mereka lupa dari mana mereka berasal. Bangga jadi orang Pasuruan itu wajib,” ujarnya.

Ia menutup perbincangan dengan janji yang sederhana namun kuat:
“Selama masih ada satu anak yang mau belajar tari, selama masih ada satu canting yang mau meneteskan malam, selama masih ada satu gong yang mau dibunyikan… maka budaya Pasuruan tidak akan pernah mati. Itu sumpah kami di Sanggar Shyeilah Puspita Mandiri.”

Di era yang serba cepat ini, Bu Heru mengingatkan kita:
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling modern. Tetapi bangsa yang setia menjaga warisan leluhurnya.

Dan di Purwosari api itu masih tetap menyala diteruskan oleh bu Heru serta anak- anak yang tidak malu menyebutkan dirinya oranf Pasuruan. (An)