Hikmah Ramadhan : Belajar Kasih Sayang dari Umar bin Khattab dalam Kitab Ushfuriyah

Oleh : H. Abdulloh Umar

Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, ingatan saya sering kembali pada salah satu kitab yang begitu akrab di kalangan santri, yaitu Al-Mawaidzul Ushfuriyah. Kitab ini termasuk dalam deretan kitab kuning yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren salaf di Indonesia.

Biasanya, kitab ini dibaca selepas shalat tarawih atau setelah shalat dzuhur dalam suasana pengajian yang khidmat. Namun sebenarnya, kajian Ushfuriyyah tidak hanya hidup di bulan Ramadhan saja. Di banyak pesantren, kitab ini juga dikaji dalam pengajian harian maupun mingguan karena kandungan nasihatnya yang sederhana, namun sarat makna.

Kitab ini disusun oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri. Dalam pendahuluannya disebutkan bahwa penyusunan kitab ini dilatarbelakangi oleh motivasi dari sebuah hadits Nabi yang menyebutkan bahwa siapa saja yang mengumpulkan empat puluh hadits, maka ia berada dalam naungan ampunan Allah SWT. Dari semangat itulah lahir kumpulan kisah, hikmah, dan nasihat yang mudah dipahami namun mampu menyentuh hati para pembacanya.

Bagi saya pribadi, kisah-kisah dalam Ushfuriyyah seperti burung-burung kecil yang terbang perlahan. Ia tidak datang dengan suara keras, tetapi hinggap lembut di relung hati, meninggalkan jejak hikmah yang dalam.

Ketegasan yang Berbalut Kasih Sayang

Salah satu kisah yang sangat membekas adalah cerita tentang Umar bin Khattab, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Umar dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas, berani, dan sangat disegani. Ketegasannya menjadi simbol keadilan, sementara keberaniannya menjadi benteng bagi umat Islam pada masa itu. Namun di balik ketegasan tersebut, Umar juga memiliki kelembutan hati yang luar biasa.

Seekor Burung Pipit dan Pelajaran tentang Empati

Dikisahkan dalam Ushfuriyyah, suatu hari Umar berjalan di sebuah desa di Madinah. Di sana ia melihat seorang anak kecil yang sedang memegang seekor burung pipit dan menjadikannya mainan.

Melihat hal itu, hati Umar tersentuh. Ia kemudian membeli burung tersebut dari anak itu, lalu melepaskannya kembali ke alam bebas.

Peristiwa ini tampak sangat sederhana. Tidak ada pidato panjang, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada catatan sejarah besar yang menuliskannya. Hanya sebuah tindakan kecil: membebaskan seekor burung karena rasa iba.

Namun justru dari tindakan kecil itulah kita belajar bahwa kasih sayang tidak mengenal ukuran. Bahkan kepada seekor burung pun, seorang pemimpin besar tetap menunjukkan empati.

Kisah dari Alam Barzakh

Dalam kisah yang diriwayatkan dalam kitab tersebut, diceritakan bahwa setelah Umar wafat, seorang ulama bermimpi bertemu dengannya dan bertanya:

“Wahai Amirul Mukminin, apa yang Allah lakukan terhadapmu?”

Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuninya. Ketika ditanya apakah hal itu karena keadilannya, kezuhudannya, atau kedermawanannya, Umar menjelaskan bahwa Allah mengampuninya karena ia pernah menyayangi seekor burung pipit.
Dalam kisah mimpi itu disebutkan bahwa Allah berfirman, “Aku menyayanginya, dan segala dosanya telah Aku ampuni karena ia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia.”

Kisah ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” Muhammad.

Pelajaran Ramadhan: Kelembutan adalah Kekuatan

Dari kisah ini kita belajar bahwa kelembutan bukanlah tanda kelemahan. Justru ia merupakan bentuk kekuatan jiwa yang sejati.

Umar yang dikenal tegas ternyata juga memiliki hati yang sangat lembut. Seorang pemimpin besar yang disegani ternyata mudah tersentuh oleh penderitaan seekor burung kecil

Di situlah kita memahami bahwa kekuasaan tanpa kasih sayang akan terasa kering. Ketegasan tanpa empati akan terasa menakutkan. Tetapi ketika keberanian berjalan bersama kelembutan, di situlah lahir keadilan yang menenteramkan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk melembutkan hati, memperluas empati, dan menumbuhkan kasih sayang kepada semua makhluk.

Semoga dalam kehidupan sehari-hari, apapun peran kita, kita mampu menjadi pribadi yang tidak hanya kuat dalam prinsip, tetapi juga lembut dalam hati. Karena boleh jadi, satu tindakan kecil yang lahir dari kasih sayang justru menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.