Kartini Masa Kini : Perempuan Bojonegoro Tak Lagi Menunggu Kesempatan, tetapi Menciptakan Peluang

Bojonegoro, Suryanasional.com – Peringatan Hari Kartini tidak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni mengenang perjuangan RA Kartini. Di tangan perempuan masa kini, semangat Kartini menjelma menjadi kerja nyata dengan hadir dalam keberanian mengambil peran, menciptakan peluang, dan mendorong perubahan.

Salah satu representasi semangat tersebut tercermin pada sosok , Sally Atyasasmi S.KM., M.KM, politisi perempuan Bojonegoro yang kini menjabat sebagai anggota DPRD sekaligus Ketua Komisi B yang membidangi perekonomian dan Keuangan.

Sally tidak hanya hadir sebagai representasi perempuan di ruang politik, tetapi juga sebagai penggerak gagasan tentang pentingnya keberpihakan terhadap perempuan, khususnya di sektor ekonomi akar rumput.

Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa perempuan hari ini tidak lagi berada dalam posisi menunggu kesempatan. Mereka justru telah bergerak, menciptakan peluang, dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga meski sering kali tanpa dukungan sistem yang memadai.

Pandangan tersebut berangkat dari realitas yang ia temui langsung di lapangan. Di pasar tradisional, sektor pertanian, hingga usaha mikro, perempuan menjadi aktor utama yang menjaga denyut ekonomi tetap berjalan.

Namun di balik peran besar itu, masih tersimpan persoalan klasik, diantaranya keterbatasan akses permodalan, minimnya pelatihan berkelanjutan, serta lemahnya perlindungan kerja.

Menurut Sally, di sinilah negara dan pemerintah daerah harus mengambil peran lebih tegas.

“Perempuan sudah membuktikan kemampuan bertahan dan berkembang. Tetapi negara harus memastikan ada ruang, perlindungan, dan keberpihakan yang nyata,” kata Sally, Selasa (21/4/2026). Hal ini menjadi garis besar pemikiran yang terus ia dorong dalam momentum refleksi Kartini.

Sebagai Ketua Komisi B, peran Sally tidak berhenti pada tataran wacana. Ia terlibat dalam mendorong kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan, khususnya dalam penguatan sektor UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Salah satu langkah yang mulai terlihat adalah dibukanya ruang partisipasi perempuan melalui forum Musrenbang Perempuan di Bojonegoro. Forum ini menjadi penting karena menghadirkan suara perempuan secara langsung dalam proses perencanaan pembangunan—sesuatu yang sebelumnya kerap terabaikan.

Selain itu, aktivis perempuan yang sering disebut sebagai sosok inspiratif bagi perempuan di Bojonegoro ini menyebutkan, bahwa penguatan kebijakan Pengarusutamaan Gender di tingkat daerah juga menjadi fondasi penting untuk memastikan kebijakan publik tidak lagi bias dan lebih sensitif terhadap kebutuhan perempuan.

Di sektor ekonomi, dorongan terhadap UMKM perempuan melalui pelatihan, bantuan usaha mikro, hingga akses promosi menjadi bagian dari upaya yang terus dikawal.

Meski demikian, Sally juga menyadari bahwa berbagai program tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan di lapangan.

Program, menurutnya, tidak boleh berhenti pada formalitas. Jangkauan harus diperluas, pendampingan harus berkelanjutan, dan dampak harus benar-benar dirasakan oleh perempuan, terutama mereka yang berada di lapisan paling rentan.

Karena itu, menurut alumni S2 Universitas Indonesia (UI) dan S1 dari Universitas Airlangga (Unair) ini, keberpihakan tidak cukup diwujudkan dalam kebijakan tertulis. Ia harus hadir dalam bentuk nyata, yakni akses permodalan yang lebih mudah, pendampingan usaha yang berkesinambungan, akses pasar, hingga perlindungan sosial yang kuat.

Lebih jauh, Sally juga menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam ruang pengambilan keputusan. Baginya, perempuan tidak boleh lagi hanya menjadi objek kebijakan, melainkan harus menjadi subjek yang menentukan arah pembangunan.

Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Ra Kartini tentang keberanian berpikir maju, memperjuangkan kesetaraan, dan membuka ruang bagi perempuan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Kartini masa kini, dalam konteks Bojonegoro, tidak lagi sekadar simbol. Ia hadir dalam sosok-sosok perempuan yang bekerja dalam diam, bertahan di tengah keterbatasan, sekaligus berani mengambil peran di ruang publik.

Sosok seperti Sally menjadi salah satu wajah dari perubahan itu dalam menghubungkan gagasan dengan kebijakan, serta memastikan suara perempuan tidak lagi berada di pinggir, melainkan di pusat arah pembangunan.

Pada akhirnya, memperjuangkan perempuan bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia adalah kerja panjang yang membutuhkan keberanian, konsistensi, dan keberpihakan nyata.

Dan di sanalah, semangat Kartini menemukan makna terbarunya hari ini.

**Representasi pemikiran Sally Atyasasmi