Miftahul Huda Lepas 129 Lulusan: Juara Kelas Penting, Akhlak Lebih Penting

Pasuruan,Suryanasional.com – Toga biru tua bertumpuk, kalungan medali melingkar di leher, dan mata ibu berkaca-kaca. Minggu 21/6/2026, lapangan Lembaga Pendidikan Miftahul Huda, Desa Jerukpurut berubah jadi panggung perpisahan sekaligus janji.

129 siswa resmi dilepas. Rinciannya: 19 anak MI, 61 anak MTs, 49 anak SMK. Mereka lulus bukan hanya dengan ijazah, tapi dengan bekal yang jarang disebut di brosur sekolah lain: akhlak.

Di Miftahul Huda, piala lomba sains duduk satu rak dengan hafalan juz 30. Ranking kelas penting, tapi adab ke guru lebih penting.

Wisuda itu dihadiri Ketua DPRD Pasuruan Samsul Hidayat, Kades Jerukpurut H. Slamet, tokoh masyarakat, dan wali murid yang memadati tenda.

Samsul Hidayat, atau yang akrab disapa Lek Sul, naik mimbar tanpa teks panjang. Kalimatnya pendek, tapi menohok.
“Di Miftahul Huda saya lihat anak-anak ditempa dua hal. Otaknya diasah biar berprestasi. Hatinya dijaga biar berakhlakul karimah. Karena jujur saja, anak pintar banyak. Anak pintar yang jujur, santun, takwa, itu yang langka,” ujarnya.

Ia lalu menunjuk barisan siswa MTs yang baru saja membacakan puisi untuk guru. “Itu buktinya. Pinter ngaji, pinter pidato, tapi tetap nunduk salim ke gurunya. Itu pendidikan karakter.”

Menghadap 129 wisudawan, Lek Sul tak banyak bicara soal kampus atau kerja. Ia bicara soal cara hidup.
“Terus belajar. Disiplin. Percaya diri. Tapi ingat, prestasi itu tangga, bukan atap. Puncaknya adalah akhlak, kejujuran, ketakwaan. Kalau tiga itu hilang, ijazah setinggi apa pun rasanya hampa,” katanya.

Seorang siswi SMK maju ke depan. Tangannya gemetar memegang mikrofon. Ia membacakan janji: “Kami lulus. Kami akan jaga nama baik almamater. Kami akan jadi anak yang sholeh, anak yang berguna.” Tepuk tangan wali murid pecah.

Lek Sul lalu menoleh ke barisan orang tua. Bagi dia, keputusan menitipkan anak ke sekolah adalah keputusan menitipkan masa depan.
“Orang tua, Anda tidak cuma pilih gedung dan kurikulum. Anda pilih lingkungan. Pilih siapa teman anak Anda. Pilih nilai apa yang tiap hari masuk ke kepalanya. Miftahul Huda coba memadukan tiga hal: prestasi, karakter, nilai religius. Biar anak cerdas, beriman, dan tidak gagap menghadapi zaman,” ucapnya.

“InsyaAllah,” ia menutup, “dengan ilmu yang bermanfaat dan akhlak mulia, anak-anak ini akan jadi generasi yang bikin orang tua bangga, masyarakat terbantu, agama terjaga.”

Prosesi ditutup doa. Toga dilempar ke udara. Tapi beda dari wisuda kebanyakan, lemparan toga itu diikuti pelukan panjang ke guru dan orang tua.

Bagi Miftahul Huda, 129 itu bukan angka kelulusan. Itu 129 titipan Allah yang sekarang giliran masyarakat yang menjaga.

Di zaman ketika nilai UTBK jadi tolak ukur, Miftahul Huda memilih tolak ukur lain: anak pulang ke rumah, salim, bilang “Bu, doain saya”. Itu lulus yang sesungguhnya.(An)