Peroleh Mesin Insinerator, Begini Langkah Pemdes Jati Kulon Kudus Selanjutnya

Kudus,Suryanasional.com – BLDF (Bakti Lingkungan Djarum Foundation) menyerahkan dua insinerator untuk Desa Jati Kulon dan Kedungdowo di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang dikelola badan usaha milik desa (Bumdes) agar mampu mengolah sampah anorganik.

“Kami sudah membantu mengatasi sampah organik di Kabupaten Kudus sejak tahun 2018, dan kali ini membantu untuk mengatasi sampah anorganik dengan bantuan insinerator untuk dua desa,” kata Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) Jemmy Chayadi, Senin (23/6/2025).

Dia mengingatkan bahwa insinerator itu hanya sebuah alat sehingga tanpa keterlibatan semua individu sebagai produsen sampah untuk melakukan pemilahan sampah maka pengelolaan sampah anorganik menjadi tidak optimal.

“Ini pertama kali BLDF membangun insinerator di desa di mana semua warga desanya sudah punya komitmen memilah sampah dan berharap bisa menjadi contoh bagi desa lain,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Jati Kulon, Hery Supriyanto menyampaikan terimakasih atas bantuan dari PT Djarum dan ini merupakan progam gebrakan, sesuai dengan solusi permasalahan yang diprioritaskan yakni sampah yang melimpah di Kudus.

“Harapannya, 90% sampah di Kudus bisa terkelola dan terpilah dengan baik sehingga meminimalisir pembuangan ke TPA (tempat pembuangan sampah) di Tanjungrejo Kudus” katanya.

Dia menjelaskan bahwa saat ini yang digencarkan adalah pilah sampah, kebetulan di desanya pilah sampah sudah berjalan sejak lama dan bisa mengurangi beberapa sampah.

“Sebelum ada bantuan dari Djarum, kami sudah pilah sampah antara organik dan an organik berjalan beberapa persen, kita olah sebatas kemampuan untuk kebutuhan internal ibu-ibu menanam sayur daripada dibuang ke TPA” tandasnya.

Menurutnya, Menyadarkan masyarakat untuk memilah sampah itu tidak mudah perlu pendekatan dan program-program yang jelas sehingga masyarakat dapat menerima arahan dari pemdes.

“salah satu langkah adalah dengan memberikan hadiah kepada masyarakat yang konsisten dengan memilah sampah, para produsen sampah akan diberikan hadiah jika konsiten, hal itu bertujuan agar masyarakat sadar untuk bisa memilah sampah dengan mandiri” tuturnya.

Oleh Sebab itu, Hery, sangat senang dapat bantuan mesin insinerator untuk membakar sampah. Dengan kapasitas pembakaran sampah 3,6 kwintal per jam, maka penanganan sampah di Desa Jati Kulon cukup selesai di TPS.

“Total sampah warga kami itu 6 ton sehari. Dengan adanya mesin insinerator ini kami targetkan sampah di desa kami selesai pada hari kerja,” ujar Hery.

Untuk alatnya sendiri menggunakan bahan bakar kayu yang sementara bisa bekerja sama dengan PT pura yang apal kayu bekasnya tidak terpakai untuk didaur ulang.

“Kalo ambilnya pake ongkos sendiri tetapi barang kayunya dari kerja sama PT Pura, dan kayu tersebut tidak terlalu banyak cuman memancing untuk pengolahan sampah” Jelas Hary.

Pihaknya menambahkan bahwa yang menjadi pelanggan sampah di Bumdes Jati Kulon sekitar 1867 rumah dengan Iuran 20 rb.m dengan rincian masuk ke Bumdes 18 rb sedangkan yang 2 rb untuk yang menarik.

Penanganan sampah itu, Lanjut Hary, tidak hanya dari satu segmen tetapi dari hulu ke hilir mulai dari produsen sampahnya rumah tangga, kemudian dari operator bentor, dan operator alat mesin insinerator.

“Untuk operator bentor saat ini gaji per bulan 2 jt, Karena kami belum bisa menaikkan gaji para bentar kami berikan insentif. Insentif berupa pemilahan sampah dari produsen yang tidak dipilah, kemudian dipilah bentor sendiri maka diberikanlah insentif” katanya.

Menurutnya, tidak hanya menjual jasa tetapi melayani masyarakat yang paling penting. Hal Itu merupakan salah satu upaya Dia untuk mengendalikan siklus sampah yang ada di TPS.

“Kalau semua itu bisa teratur dengan baik, mulai dari masyarakatnya sendiri bisa memilah-milah sampah. Otomatis dari teman bentor dan operator mesin akan menjadi lancar untuk pengolahan sampahnya” kata Dia.

Berkat adanya mesin insinerator, tadinya membuang sampah setiap minggu 16 truck bisa mengurangi 9 truck sampah dengan biaya 150 rb per truck nya.

“Setelah ada mesin Insinerator kami eksperimen berdasarkan SOP spek mesin tersebut kami bisa mengurangi sembilan truck dari total 16 truck” lanjutnya.

Harapannya, setelah rancangannya ketemu, Insya Allah ke depan bisa maksimal di 6 truck, bahkan bisa 3 truck dalam satu minggu.

Dengan demikian, Pihaknya lebih efisiensi pengeluaran biaya sampah ke TPA. Sehingga nanti bisa memberikan kesejahteraan karyawan Bumdes dan juga untuk reward para produsen sampah rumah tangga.

“Kami masih membutuhkan petunjuk dan juga arahan dari PT Djarum. Bantuan ini tidak hanya berhenti disini saja, namun kami masih membutuhkan progam-progam lainnya dari beberapa perusahaan” tutupnya.

Untuk program ke depan apabila sampah bisa habis dalam satu hari maka akan bekerja sama dengan desa sekitar. Namun semua itu biasanya membutuhkan dua shift tidak hanya satu sift saja. (AD)