Ribuan Masyarakat Ikuti Tradisi Ampyang Maulid di Kudus, Tampilkan Budaya dan Religi

Kudus,Suryanasional.com – Masyarakat Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus kembali menggelar Tradisi Ampyang Maulid dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, pada Minggu, (7/9/25).

Beberapa warga Desa Loram Wetan dan Kulon menampilkan berbagai bentuk budaya. Antaralain berupa gunungan hasil bumi, pakaian adat dari dari berbagai daerah, budaya manten mubeng, serta sumur gentong.

Masyarakat antusias menyaksikan penampilan kirab budaya yang dibawakan oleh masyarakat sekitar. Kirab budaya ini dimulai dari Lapangan Kongsi menuju Masjid Wali Loram Kulon atau Masjid At-Taqwa.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa tradisi ini sarat akan makna religi dan kebersamaan masyarakat Desa Loram Kulon maupun Loram Wetan. Kirab ini menjadi wujud spirit ekonomi, budaya, dan wisata di Kudus.

“Semoga apa yang dilakukan ini, ada spirit ekonomi, spirit budaya, dan spirit kekeluargaan. Tadi masyarakat Kudus menginginkan agar Kudus aman, tertib, nyaman dan tidak ada anarkis apapun,” katanya.

Sam’ani juga menyebut bahwa sebagai salah satu potensi wisata di Kudus, Tradisi Ampyang Maulid membutuhkan promosi yang lebih masif. Sehingga banyak wisatawan datang, dan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat.

“Tentu saja dengan adanya wisatawan yang datang akan memberikan kontribusi ekonomi. Melihat antusias masyarakat ini, sangat luar biasa, semoga Kudus aman dan masyarakat bahagia selalu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Kirab Ampyang Maulid, Moh Abdul Rouf meyebut, ada lebih dari 47 kontingen kirab yang ikut dalam gelaran tradisi kali ini. Tema kirab sendiri yakni Kearifan Lokal, dengan menampilkan potensi desa seperti hasil bumi.

“Tradisi Ampyang Maulid ini sebagai wujud syukur masyarakat Desa Loram atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kalau untuk nasi kepel dan kerupuk ampyang ini sebagai wujud sodaqoh masyarakat Loram,” kata Rouf.

Nasi kepel sendiri, muncul usai Sultan Hadirin yang merupakan tokoh penyiar agama di wilayah setempat, yang sering membawa bekal saat melakukan siar. Sedangkan, ampyang merupakan kerupuk warna-warni yang menjadi hiasan.

Sementara itu, anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR) Republik Indonesia (RI) dan juga mantan Bupati Kudus dua periode, Musthofa mengapresiasi perkembangan tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.

Menurutnya, perayaan yang digelar setiap tahun itu kini tidak hanya sekadar rangkaian budaya dan keagamaan, melainkan juga menunjukkan peningkatan kemandirian masyarakat dalam bidang pendidikan dan spiritual.

“Saya melihat ada perubahan yang luar biasa. Ampyang Maulid ini bukan sekadar siklus budaya atau keagamaan. Ada nilai spiritual yang semakin menguat, salah satunya ditandai dengan adanya prasasti dari keluarga besar Nahdlatul Ulama,” kata Musthofa

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah menitipkan pesan kepada Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Wakil Bupati Kudus Bellinda Sabrina Birton, serta tokoh masyarakat termasuk mas  Mukhasiron, untuk bersama-sama membangun jaringan wisata religi berbasis tradisi Islam yang kuat di Kudus. (AD)