Umbul Dungo Kepatihan Resmi Masuk Agenda Tahunan Kabupaten, Tradisi dan UMKM Makin Menguat

BOJONEGORO,Suryanasional.com – Tradisi Umbul Dungo di Kelurahan Kepatihan semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, kegiatan yang merupakan pengembangan dari tradisi sedekah bumi tersebut sukses menyedot perhatian ratusan warga pada puncak acara yang digelar Jumat malam (12/6).

Tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, Umbul Dungo juga berkembang menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Beragam produk UMKM lokal turut meramaikan kegiatan yang berlangsung meriah dengan nuansa kebersamaan dan kekeluargaan.

Lurah Kepatihan Putri Negari menjelaskan, Umbul Dungo merupakan bentuk modernisasi tradisi sedekah bumi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi sarana masyarakat untuk bersyukur atas nikmat dan keberkahan yang diberikan Allah SWT.

“Nilai-nilai tradisi tetap kami pertahankan, tetapi dikemas lebih menarik agar dapat diterima generasi muda dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak sehari sebelumnya melalui Khataman Al-Qur’an dan Ndungo Cungkup. Pada hari pelaksanaan, masyarakat menggelar Kirab Tumpeng Pitu menuju makam leluhur sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendahulu yang telah mewariskan budaya kepada generasi sekarang.

Dalam kesempatan itu, Putri Negari juga menyampaikan kabar membanggakan. Serabi Bojonegoro yang menjadi salah satu kuliner khas daerah kini resmi memperoleh Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Menurutnya, sertifikat tersebut menjadi bentuk perlindungan terhadap warisan kuliner daerah sekaligus memperkuat identitas budaya Bojonegoro.

Selain itu, Kelurahan Kepatihan juga meluncurkan program pemberdayaan UMKM bertajuk “Sumur Ringin” atau Semua UMKM Makmur, Siap Bersaing, dan Inovatif. Melalui program tersebut, pelaku usaha didorong memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga akses pemasaran digital.

Menariknya, seluruh kuliner UMKM yang disajikan dalam kegiatan tersebut dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Suasana semakin semarak dengan hiburan campursari dan pertunjukan Langen Tayub yang menghibur warga hingga malam hari.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan Kelurahan Kepatihan. Menurutnya, Umbul Dungo merupakan contoh bagaimana tradisi lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

“Ini bukan hanya kegiatan budaya, tetapi juga sarana memperkuat doa, kebersamaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Nurul Azizah menyerahkan bantuan gerobak usaha dari Bupati Bojonegoro kepada sembilan pedagang serabi yang selama ini konsisten mempertahankan kuliner khas daerah tersebut.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Wakil Bupati mengusulkan agar Umbul Dungo dan Festival Seribu Serabi ditetapkan sebagai agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Usulan tersebut langsung mendapat dukungan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elsa.

Mulai tahun depan, Umbul Dungo dan Festival Seribu Serabi akan masuk dalam kalender event tahunan Kabupaten Bojonegoro. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat promosi budaya lokal sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Acara ditutup dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Bojonegoro didampingi Lurah Kepatihan, Kepala Disbudpar, Forkopimcam, serta para Ketua RT dan RW setempat. Dengan dukungan pemerintah daerah, masyarakat optimistis Umbul Dungo akan terus berkembang sebagai tradisi budaya yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. (Red)