Bojonegoro, Suryanasional.com – Bertepatan dengan hari santri nasional 2020, Ketua DPRD Bojonegoro Imam Sholikin menggelar tasyakuran bersama para petani pesanggem atau petani yang menggarap lahan di wilayah hutan, Kamis (22/10/2020).
Imam Sholikin menyebutkan bahwa kegiatan ini dalam upaya untuk berjuang bersama para petani dalam meningkatan ekonomi masyarakat melalui budidaya tanaman Porang di Lahan perhutani.
“Ini merupakan bagian dari jihad kita untuk berikhtiar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dengan melakukan budidaya tanaman porang di lahan perhutani KPH Bojonegoro petak 20B yang dikelola oleh LMDH Wana Abadi Desa Ngunut, Kecamatan Dander,” kata Imam Sholikhin.
Menurutnya, tanaman porang ini dikenal juga dengan nama iles-iles. Tanaman porang ini adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri.
“Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem maupun Jelly,” terang Imam Sholikin.
Dia berharap agar kegiatan ini nantinya bisa berjalan lancar dan mencapai hasil yg memuaskan,”terlebih mendapat Ridlo dan Barokah dari Allah SWT,” kata Imam Sholikhin.
Dijelaskannya, bahwa bertani adalah bagian dari nikmat dan bentuk dari cara kita mencintai alam yang artinya mahabbah kepada Allah SWT.
“Bertani adalah implementasi dari cara kita mahabbah kepada Allah SWT. Bertani adalah sebuah nikmat, untuk itu kita harus bangga sebagai petani,” ungkap Imam Sholikhin.
Dia menambahkan bahwa banyak cara dalam melakukan jihad, salah satunya dengan berjuang meningkatkan perekonomian masyarakat dan kemakmuran umat.
“Mbah Hasyim Asyari dulu memimpin Resolusi Jihad, maka saat ini kita harus memimpin Resolusi Ekonomi masyarakat demi kemakmuran dan kemaslahatan umat,” kata Imam Sholikhin.
Menurut Imam Sholikhin, penetapan Hari Santri diantara juga didasari atas Resolusi Jihad yang dicetuskan dan dibacakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945.
“Dalam resolusi ini, Mbah Hasyim Asy’ari didukung oleh tokoh-tokoh dari berbagai organisasi Islam lainnya, seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, Matlaul Anwar, Persis dan elemen bangsa lainnya,” jelasnya.
Resolusi tersebut, lanjut Imam Sholikin, lalu mendorong lahirnya perjuangan para santri dari berbagai daerah bersama arek-arek Suroboyo melawan penjajah Belanda pada 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Sementara dalam situasi Pandemi Covid-19 ini, imam Sholikin berharap agar santri bisa bisa selalu proaktif. Selain itu menurutnya, santri harus bisa menjadi tauladan untuk khalayak dalam memerangi pandemi Covid-19.
Terkait santri dan pertanian, Imam Sholikin mengimbau para santri untuk lebih mempunyai nilai kemandirian, salahsatunya bisa lebih mengembangkan skill di bidang pertanian.
“Seperti pernah diucapkan KH Hasyim Asy`ari bahwa petani adalah penolong negeri. Dalam hal ini, santri harus mengambil peran dan diberikan ruang,” kata Imam Sholikin.
Dalam kegiatan Tasyakuran bersama para petani ini, hadir pula Ketua PCNU Bojonegoro, dr Cholid Ubed, para, para tokoh agama dan tokoh masyarakat, investor lokal dan masyarakat sekitar.(Lex/red).






