Bojonegoro, Suryanasional.com –
Seniman dan seniwati Desa Jono Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro membentuk paguyuban Sanggar Seni Madu Koro.inisiatif paguyuban ini sebagai upaya memperkuat eksistensi seni dan budaya lokal.
Paguyuban Sanggar Seni Madu Koro dibentuk dengan kepengurusan organisasi secara formal, mulai dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, hingga bidang-bidang yang menaungi berbagai jenis kesenian.
Pembentukan kelembagaan ini tidak hanya menjadi simbol kekompakan para pelaku seni, tetapi juga langkah awal menuju legalitas formal melalui penerbitan Kartu Induk Kesenian ( KIK ) oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro.
Nomor induk tersebut nantinya menjadi bukti sah keberadaan Sanggar Seni Madu Koro, sehingga organisasi ini dapat diakui secara resmi dalam berbagai kegiatan seni maupun kerja sama dengan pihak luar.

Proses pembentukan struktur organisasi ini didampingi penuh oleh Mahasiswa KKN Tematik Kolaboratif Kelompok (KKNTK) 26 Universitas Bojonegoro (Unicorn).
Mahasiswa turut memfasilitasi diskusi serta membantu penyusunan dokumen administrasi, hingga memastikan kelengkapan persyaratan yang diperlukan untuk pengajuan legalitas sampai dengan terbitnya Kartu Induk Kesenian tersebut.
Keberadaan Sanggar Seni Madu Koro di Desa Jono ini diharapkan dapat lebih terkoordinasi dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kesenian daerah, termasuk mempromosikan kesenian khas seperti Langen Tayup yang menjadi identitas kultural desa ini.
Kepala Desa Jono, Hj.Henis Meindrawati S.Pd menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Dirinya berharap keberadaan paguyupan yang telah memiliki legalitas resmi akan membuka peluang lebih luas bagi pelaku seni untuk tampil di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional.
“Legalitas ini bukan sekadar formalitas, tapi sebuah pintu untuk memperluas jaringan, meningkatkan kualitas pertunjukan, dan memperkuat posisi seni budaya kita di mata publik,” katanya.
Disenutkan Jl, Henis Meindrawati bahwa langkah strategis ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi mampu menghasilkan terobosan penting bagi keberlangsungan seni dan budaya lokal.
“Ke depan, Sanggar Seni Madu Koro diharapkan menjadi wadah yang tidak hanya memelihara tradisi, tetapi juga berinovasi agar kesenian Desa Jono tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” imbuh dia.






