Mahasiswa KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro Kenalkan Ekonomi Sirkular Lewat Program “Tari Modus Leting” di Jatiblimbing

BOJONEGORO,Suryanasional.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIKES Muhammadiyah Bojonegoro menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular melalui program “Tari Modus Leting” di Desa Jatiblimbing, Kecamatan Dander. Program tersebut mengintegrasikan pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, peningkatan gizi, dan penguatan ekonomi warga dalam satu sistem yang saling mendukung.

Peluncuran program pada Jumat (31/7) ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara Tim KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro dan Pemerintah Desa Jatiblimbing. Kesepakatan itu menjadi bentuk dukungan terhadap implementasi program agar dapat berkelanjutan di tengah masyarakat.

“Tari Modus Leting” merupakan akronim dari tiga program utama. Pertama, TARI (Ternak Ayam Mandiri) yang mendorong budidaya ayam petelur skala rumah tangga guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus menambah pendapatan keluarga. Kedua, MODUS (Modal Usaha Sampah) yang mengajak masyarakat mengelola sampah plastik dan botol bekas menjadi sumber modal usaha. Ketiga, LETING (Lele Terintegrasi Gizi) melalui budidaya ikan lele dengan pemanfaatan tanaman azolla sebagai pakan alami bernilai gizi tinggi untuk menekan biaya produksi.

Ketiga program tersebut dirancang membentuk siklus ekonomi sirkular. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi, sekaligus mendukung peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, warga diajak memilah dan mengumpulkan sampah plastik untuk dijual kepada pengepul. Hasil penjualan kemudian dimanfaatkan sebagai modal pembelian bibit ayam petelur, benih lele, pakan, hingga kebutuhan budidaya lainnya.

Selain itu, limbah dapur dimanfaatkan sebagai pakan tambahan ayam, sedangkan tanaman azolla dibudidayakan sebagai pakan alami lele. Hasil panen telur dan ikan lele selanjutnya dimanfaatkan sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil, sekaligus menjadi sumber protein bagi keluarga sebagai upaya mendukung pencegahan stunting.

Sebagai tahap awal, Tim KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro menyerahkan bantuan berupa lima ekor ayam petelur jenis Elba, 50 ekor benih lele, pakan, dan vitamin kepada warga yang menjadi lokasi percontohan (pilot project).

Penanggung Jawab Program, Thoyiba Wahyu Famelia, mengatakan program tersebut dirancang tidak hanya sebagai kegiatan selama masa KKN, tetapi juga sebagai model pemberdayaan masyarakat yang dapat terus dikembangkan secara mandiri.

“Melalui Program Tari Modus Leting, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan peningkatan gizi masyarakat dapat berjalan secara terpadu. Harapannya, masyarakat mampu mengembangkan program ini secara mandiri sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Pemerintah Desa Jatiblimbing mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro. Program tersebut dinilai memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan, ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Program Tari Modus Leting diharapkan menjadi model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular yang dapat diterapkan di desa-desa lain. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih, program ini juga diharapkan mampu membangun desa yang sehat, mandiri, produktif, dan berdaya.(Thoyiba/red)