Ramainya Soal Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Kata Kyai Tamam Syaifudin

Bojonegoro – Jejaring media sosial (medsos) saat ini tengah ramai membicarakan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) perihal pemutihan pajak kendaraaan bermotor, hal ini tentu menuai banyak respon di kalangan masyarakat, terutama para penikmat medsos.

Dari adanya kebijakan Pemprov Jabar tersebut, banyak para penikmat medsos memberikan komentar positif, bahkan ada beberapa netizen meminta Pemerintah setempat untuk melakukan hal serupa.

Dalam hal ini, masyarakat Jawa Timur juga meminta Pemerintah setempat untuk melakukan pemutihan denda serta pajak pokok kendaraan.

Berkenaan hal ini, Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Al Fatimah Bojonegoro, Dr. KH Tamam Syaifuddin turut berkomentar perihal ramainya aturan pajak kendaraan bermotor tersebut.

Ia menilai, aturan tersebut juga harus banyak melalui pertimbangan, dalam hal ini harus mempertimbangkan pendapatan Kabupaten atau Kota di Jawa Timur.

Ini dikarenakan, lanjut Kiyai Tamam, untuk pajak kendaraan, tidak semua diterima  Pemprov Jatim, hal ini mengacu dengan adanya aturan Pemprov hanya menerima 30 persen dari pajak tersebut.

“Kemudian, dari 30 persen tersebut, sisanya akan diberikan kepada pemerintah daerah,” tambahnya.

Berdasarkan aturan tersebut, Pihaknya mengungkapkan bahwasannya aturan pemutihan pajak kendaraan yang ramai diperbincangkan itu tidak harus sama seperti pemprov Jabar.

Hal ini dikarenakan masing-masing daerah memiliki gaya kepemimpinan yang tidak bisa disamakan satu sama lain, akan tetapi para pemimpin tersebut mempunyai tujuan yang sama, yakni mempermudah dan mensejahterakan rakyatnya.

“Ibu Khofifah dan mas Emil merupakan jagonya mengurusi urusan tersebut, kita percayakan saja kepada beliau,” ungkap Kiyai Tamam yang juga sebagai Penasehat RMI PWNU Jawa Timur ini.

Kiyai yang juga dikenal dekat dengan Khofifah-Emil ini menambahkan bahwa saat ini para pemimpin sedang tidak mudah menghadapi dinamika politik dan ekonomi gelobal yang tidak menentu.

“Hal ini bisa dilihat dengan adanya perubahan yang cepat dan dasyat, perang dagang dan ekonomi negara-negara barat serta asia, jadi kita semua harus hati-hati dan cerdas membaca situasi global (Global Conditional),” tandasnya.(riz/red)