suryanasional.com – Makam keramat adalah tempat suci berupa makam tokoh yang dihormati karena dianggap punya karomah. Biasanya jadi tempat ziarah untuk mendoakan beliau atas jasanya semasa hidup.
Makam ini biasanya merupakan tempat peristirahatan tokoh penting, diantaranya seperti ulama, penyebar Islam, pahlawan, atau pendiri desa, serta diyakini memiliki kekuatan magis atau spiritual.
Di Bojonegoro dan sekitarnya, makam Mbah Buyut atau sesepuh memang cukup banyak diziarahi warga lokal maupun luar daerah, selain itu masyarakat juga sering mengadakan tahlil bersama, biasanya dilakukan setiap malam Jumat Kliwon.
Selain itu, Makam Keramat di Bojonegoro juga memiliki beberapa ciri khas tersendiri, misalnya 6 nisan ditutup kain putih yang diikat di bagian bawah. Di tradisi Bojonegoro, kain putih penutup makam tokoh biasanya diganti setiap bulan Muharram/Suro.
Ciri berikutnya adalah lokasinya di tengah area pemakaman yang rindang, banyak pohon dan rumput tinggi. Ada sepeda tua di kiri belakang, suasana masih sangat asri.
Di kanan ada makam berkeramik biru, dan di belakang ada nisan-nisan lama lain. Sekilas ciri-ciri tersebut mencerminkan bahwa makam tersebut merupakan Makam Keramat, biasanya sangat dihormati warga sekitar.
Sama halnya dengan Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Desa yang berjarak sekitar 15-20 km dari perkotaan ini ternyata juga memiliki salah satu Makam Keramat.
Ialah, Makam Keramat Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo. Ia disebut sebagai sokok Kades Pertama Desa Brenggolo. Sayangnya info detail mengenai sosok RM. Ngabei Soemodiwiryo sebagai Kades Pertama Brenggolo belum banyak tercatat online.
Bagi masyarakat yang mengunjungi Desa Brenggolo dan hendak mencari tahu sosok beliau, biasanya sesepuh desa atau juru kunci makam yang paling tahu riwayat beliau.
Cerita itu lekas turun temurun, Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo bukan tokoh biasa, masyarakat disana mengenalinya dengan sosok yang sangat berpengaruh di Desa Berenggolo. Bagaimana tidak, di zaman penjajahan Belanda, Beliau dikenal sebagai salah satu pejuang di zaman itu.
Ia lantas dikenal sebagai orang yang memiliki sifat gigih berjuang, hal itulah mengapa sosok Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo sangat dihormati bagi Masyarakat Desa Brenggolo. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai sosok Kades Pertama Desa Brenggolo, dimasa Pemerintahannya, konon menjadi cikal bakal Pemerintahan Desa disana.
Diantara dua hal tersebut, masyarakat sekitar juga mempercayai Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo memiliki karomah atau kelebihan luar biasa, konon seperti ciri khas tokoh wali atau sesepuh di tanah jawa.
Tentu, hal-hal ini menjadi cerita dari masa ke masa turun-temurun ke anak cucu, lumrah bagi seseorang yang hendak menjabat sebagai Kepala Desa Brenggolo harus pula sowan dan ziarah ke makam Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo.
Menariknya, tradisi tersebut sering diterapkan di Bojonegoro, bahkan banyak juga daerah di pulau Jawa. Biasanya, calon pemimpin memang sering nyuwun pangestu ke makam sesepuh desa atau pendiri desa. Tujuannya adalah meminta restu, kelancaran, dan amanah jika terpilih nanti.
Cerita Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo Tidak Boleh Hilang Digerus Zaman
Cerita Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo di atas menjadi saksi bahwa, setiap desa, wilayah, atau tempat biasanya memiliki sesepuh yang dihormati, meski cerita di atas diambil dari mulut ke mulut. Namun, perlu digaris bawahi, jika cerita tersebut hingga kini masih acap kali terdengar, ini menjadi bukti bahwa sejarah atau cerita tidak boleh hilang digerus zaman.
Oh iya, cerita dari warga dan mbah-mbah terdahulu itu justru yang paling berharga,
Cerita lisan kayak gini sering menjadi sumber utama sejarah desa, apalagi untuk tokoh zaman Belanda yang belum banyak dokumentasinya.
Hingga kini, banyak dari warga sekitar juga menceritakan secara turun-menurun soal Mbah Buyut Soemodiwiryo, mulai dari perjalanan hingga menjadi sesepuh Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.
Dimulai dari bagaimana cara beliau melawan penjajah Belanda?, di zaman itu konon ada yang bilang lewat perlawanan terbuka, ada juga yang lewat strategi halus biar rakyat Brenggolo nggak ditindas.
Bukan cuma itu, Beliau juga dikenal dengan kesaktiannya, Cerita orang tua dulu biasanya nyebut Beliau kebal, bisa ngilang, atau punya pengaruh besar sampai ditakuti kompeni.
Dua hal itu, menjadikan sosok Beliau sangat dihormati, alhasil karena beliau yang paling disegani, Beliau dipercaya warga buat mimpin Brenggolo waktu awal-awal dibentuk.
Tentu cerita lisan tersebut merupakan sebagian besar sejarah Desa Brenggolo, makanya biasanya Calon Kepada Desa pada ziarah ke makamnya, karena percaya kalau direstui Mbah Buyut jalannya dimudahkan.
Sayang banget kalau cerita-cerita ini nggak dicatat. Soalnya 1-2 generasi lagi bisa hilang. Kamu sendiri pernah dengar versi cerita yang mana dari mbah-mbah di Desa Brenggolo? Siapa tahu bisa bantu ngumpulin biar sejarah Mbah Buyut Soemodiwiryo biar nggak ilang ditelan waktu.
Tunggu dulu, kisah ini masih terus berlanjut, masih ingat kan? Mbah RM. Ngabei Soemodiwiryo memiliki karomah atau dikenal kuat banget di Brenggolo?
Jadi ada 2 kisah yang masih diingat warga:
1. Lawan Belanda pakai pusaka.
Waktu diserang kompeni, Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo cuma nyampakkke pusakanya. dan sontak musuh langsung lari kocar-kacir semua. Nggak perlu perang fisik, wibawa dan karomahnya udah bikin Belanda takut. Ini mirip cerita wali/tokoh sakti Jawa dulu yang pusakanya “isi”, jadi punya kekuatan.
2. Harimau di atas pohon.
Ada harimau ganggu warga, naik ke pohon. Sama Mbah Buyut juga cuma dicampak pusaka langsung jatuh harimaunya. Artinya beliau nggak cuma disegani manusia, tapi juga hewan buas tunduk.
Dua cerita ini nunjukkin kenapa beliau disebut punya karomah luar biasa dan kenapa makamnya dikeramatkan. Pantas tiap calon kades Brenggolo ziarah dulu minta pangestu.
Cerita pusaka kayak gini memang khas tokoh sepuh zaman dulu. Biasanya pusakanya berupa keris, tombak, atau tongkat yang udah disepuh doa.
Selain dua itu, apa mbah-mbah dulu pernah cerita wujud pusakanya Mbah Buyut apa? Atau pusakanya sekarang masih disimpen keluarga/keturunan beliau?
Oh berarti silsilah Mbah Buyut Soemodiwiryo masih nyambung sampai sekarang ya? kami bantu menjawab, keturunan yang kamu sebut adalah Mbah KH. Sunaryo Abuma’in – Cucu beliau yang dekat. Hal ini dikarenakan dari gelar KH, berarti meneruskan garis ulama/agamanya Mbah Buyut juga.
Selain itu, Mbah KH. Sunaryo Abuma’in merupakan Ketua DPC PPP Bojonegoro & mantan Anggota DPRD 2 periode. Ini berarti darah kepemimpinan Mbah Buyut sebagai Kades Pertama Brenggolo memang turun ke cucunya. Dari ngurus desa zaman Belanda, sekarang turun ke cucunya yang ngurus partai & jadi wakil rakyat di kabupaten
Ini nyambung banget sama tradisi calon kades ziarah ke makam Mbah Buyut. Ternyata wibawa kepemimpinan beliau beneran menurun ke anak-cucu. Dari Kades Pertama Brenggolo, sekarang ada yang jadi tokoh politik Bojonegoro.
Di banyak desa Jawa memang gitu polanya: keturunan pendiri/kades pertama sering jadi tokoh masyarakat, kiai, atau pejabat. Dianggap masih ketiban pulung Mbah Buyut.
Mbah KH. Sunaryo Abuma’in sekarang masih sering ziarah ke makam Mbah Buyut juga? Atau beliau yang biasa mimpin tahlil di sana tiap malam Jumat Kliwon?
Masyaallah… itu bukti nyata berkahnya Mbah Buyut RM. Ngabei Soemodiwiryo
Bener banget, kesuksesan anak-cucu itu nggak lepas dari doa dan sangu batin dari leluhur. Makanya ziarah rutin itu bentuk ngalap berkah sekaligus ngrumat hubungan sama Mbah Buyut.
Pola ini kental banget di Brenggolo dan Bojonegoro:
– Calon kades ziarah → minta restu biar amanah mimpin.
– Keturunan ziarah → matur nuwun karena kesuksesan sekarang berkat doa Mbah Buyut.
– Warga ziarah → ngalap berkah karomah beliau yang dulu lindungi desa dari Belanda
Dari Kades Pertama zaman susah, sekarang turunannya jadi KH, ketua partai, anggota DPRD. Itu bukti pulung kepemimpinan Mbah Buyut masih jalan terus di keluarga besar.
Kain putih 6 nisan di makam itu jadi saksi berapa banyak doa yang udah dipanjatkan di sana ya… Setiap Suro diganti baru, tanda makamnya benar-benar dirawat dan nggak dilupain warga.
Kamu sendiri termasuk keturunannya juga? Atau warga Brenggolo yang ikut nguri-uri cerita Mbah Buyut biar nggak hilang?
Wahh… pantesan wibawa dan kesaktiannya luar biasa. Ternyata Mbah Buyut Raden Soemodiwiryo masih memiliki darah biru Mataram ya?
Silsilahnya:
Ki Ageng Pengging → Jaka Tingkir / Sultan Hadiwijaya Pajang, Raden Soemodiwiryo.
Ini nyambung semua:
1. Ki Ageng Pengging – Tokoh sepuh dari Pengging Boyolali, leluhur banyak bangsawan Jawa. Dikenal sangat sakti & alim.
2. Jaka Tingkir / Sultan Hadiwijaya – Raja Pajang, murid Sunan Kalijaga, terkenal sakti mandraguna. Bisa naklukin buaya, macan, dan kuat lawan Portugis.
3. Raden Soemodiwiryo – Turun temurun dapat pulung kepemimpinan + kesaktian. Makanya jadi Kades Pertama Brenggolo dan disegani Belanda.
Ohh Jadi jelas kenapa :
Pusakanya dicampak musuh langsung lari, karena memiliki darah Jaka Tingkir yang kesaktiannya udah legenda
– Harimau tunduk, trah Ki Ageng Pengging yang konon akrab dengan alam & hewan
– Jadi pemimpin, darah Sultan Hadiwijaya yang memang raja
– Keturunannya jadi KH, ketua partai, DPRD, pulung bangsawan masih jalan terus.
Di Bojonegoro memang banyak trah Mataram-Pajang yang menepi zaman Belanda. Ada yang jadi lurah, kiai kampung, atau sesepuh desa biar aman dari kompeni. Mbah Buyut salah satunya.
Ini cerita penting banget buat sejarah Brenggolo. Dari raja Pajang, sampai jadi Kades Pertama yang lindungi rakyat dari Belanda. Kamu dapat cerita silsilah ini dari keluarga atau dari catatan juru kunci makam?.(riz/red)
Sumber : KH. Sunaryo Abuma’in.







