Bojonegoro – Setelah para pelajar melaksanakan pembelajaran dengan metode Study at Home pada 18-21 Februari kemarin. Tepat pada 23 Februari kemarin, para pelajar di Bojonegoro telah mengawali kegiatan belajar mengajar di ruang kelas. Seperti sedia kala, namun dengan suasana berbeda, bisa dibilang bersekolah, namun tetap berpuasa.
Para pelajar ini akan mengikuti pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama beberapa hari kedepan, seperti yang dianjurkan pemerintah, tepatnya pada 23 Februari hingga 14 Maret 2026 mendatang.
Selama periode ini berlangsung, selain kegiatan berupa akademik, dianjurkan pula bagi para satuan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan berupa peningkatan iman dan takwa, akhlak mulia, kepemimpinan, serta kepedulian sosial.
Berkenaan hal itu, Cabang Dinas Pendidikan (Candindik) Wilayah Bojonegoro dan Tuban memperkenalkan program Ramadhan Pendidikan Berdampak. Progam ini diluncurkan melalui rapat koordinasi sebagai langkah untuk menindaklanjuti arahan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Dalam program anyar itu, kegiatan pembelajaran selama Ramadhan berlangsung akan mengintegrasikan empat pilar utama. Terdapat banyak makna. Bisa dibilang ajang bagi para pelajar, selain dapat meningkatkan ajang kreativitas, mereka pun juga diajarkan kerohanian tentang keislaman dan penerapan nilai-nilai positif selama Ramadhan.
Kepala Seksi (Kasi) Sekolah Menengah Atas (SMA) Cabdindik Wilayah Bojonegoro dan Tuban Devvy Yuniar mengatakan, selama Ramadhan berlangsung, para pelajar akan menerapkan program Ramadhan Pendidikan Berdampak. Setidaknya ada empat pilar utama didalamnya.
“Empat pilar utama ini, diantaranya Penguatan Spiritualitas, Peningkatan Produktivitas, Menebar Kepedulian, dan Mendorong Inovasi,” kata Kasi SMA Devvy Yuniar.
Ia pun menjelaskan makna dari keempat pilar utama dalam metode program anyar itu. Pertama adalah Penguatan Spiritualitas. Sekolah dapat melaksanakan kegiatan seperti Pondok Ramadan, khotmil Qur’an, kajian keagamaan, maupun bentuk pembinaan karakter religius lainnya, sesuai dengan kondisi dan karakteristik satuan pendidikan.
Kedua, Peningkatan Produktivitas. Ramadhan tidak dimaknai sebagai bulan yang menurunkan ritme belajar, tetapi justru menjadi momentum untuk menghasilkan karya. Misalnya pembuatan kartu lebaran, ringkasan buku, karya kreatif siswa, dan aktivitas literasi lainnya.
Ketiga, Menebar Kepedulian. Sekolah didorong untuk menghadirkan kegiatan sosial seperti bakti sosial, berbagi takjil, kampanye zero plastic, serta penguatan nilai empati dan solidaritas kepada sesama.
Keempat, Mendorong Inovasi. Peserta didik diberikan ruang untuk mengekspresikan kreativitas melalui konten Ramadhan, kaligrafi, maupun karya digital yang edukatif.
Dengan adanya beberapa poin penting ini, lanjut Devvy, seluruh jalannya kegiatan tersebut, akan tetap dilaksanakan dalam koridor pembelajaran yang terstruktur dan akuntabel. Sekolah pun diwajibkan pula menyampaikan berupa laporan jadwal harian, laporan pelaksanaan harian, serta laporan kegiatan selama bulan Ramadhan melalui sistem yang telah disiapkan.
“Hal ini untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, terukur, dan berdampak nyata bagi peserta didik,” tuturnya.
Dengan demikian, Dia berharap, Ramadhan bukan hanya menjadi sebuah kegiatan seremonial saja, melainkan pula benar-benar menjadikan sebuah momentum penguatan karakter, peningkatan kompetensi, serta pembentukan kepedulian sosial seluruh siswa di SMA, SMK dan PKPLK wilayah Bojonegoro dan Tuban.
“Kami berharap melalui pendekatan ini, nilai-nilai spiritualitas dapat berjalan beriringan dengan produktivitas dan inovasi, sehingga pembelajaran tetap berkualitas dan berdampak, meskipun berada di bulan suci Ramadhan,” terangnya.
Senada, Kepala Seksi (Kasi) SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Bojonegoro dan Tuban, Unsa Hudiana mengatakan, bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk membentuk karakter, memperkuat iman dan takwa, serta menumbuhkan rasa kepedulian sosial yang kuat bagi para pelajar.
Hal itu pun mengacu pada surat yang tertuang dalam Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Pembelajaran di Bulan Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan efektif sekaligus mendukung penguatan karakter dan spiritualitas peserta didik selama Ramadhan.
Dengan memperkenalkan progam Ramadhan Pendidikan Berdampak ini, merupakan langkah upaya Cabdindik Bojonegoro untuk terus meningkatkan kreativitas dan menumbuhkan nilai-nilai kerohanian para pelajar di Bojonegoro selama Ramadhan berlangsung.
“Ramadhan bukan alasan untuk melambat, melainkan momentum untuk memberikan manfaat yang lebih luas,” tandasnya.(riz/red)






